Sunday, September 21, 2008

Makhluk Renik Tahan Radiasi Ruang Angkasa


Beruang air (Hypsibius dujardini).
Selasa, 16 September 2008

Radiasi elektromagnetik yang dipancarkan Matahari berbahaya jika terpapar langsung ke tubuh manusia. Namun, beberapa jenis hewan mungkin tahan. Misalnya, hewan renik yang sering disebut beruang air (Tardigrada).

Menurut laporan yang dilansir jurnal Current Biology terbaru, beruang air merupakan hewan pertama yang terbukti tahan hidup dalam ruangan hampa dan terpapar langsung radiasi Matahari di luar angkasa. Beruang air merupakan hewan multisel (bersel banyak), tak bertulang belakang, dan berukuran sekitar satu milimeter. Hewan tersebut hidup di hampir semua sudut ekosistem di belahan dunia.

Sejak lama hewan tersebut diketahui memiliki ketahanan tinggi terhadap lingkungan yang kering. Tubuhnya tahan meskipun kehilangan air hampir 100 persen. Saat mengalami dehidrasi seperti itu, beruang kutub akan melakukan dormansi (tidur panjang) sehingga metabolisme berhenti untuk sementara waktu. Pada kondisi dormansi tersebut, hewan ini menyesuaikan struktur selnya sampai tersedia kembali air dan kembali aktif.

Setahun lalu, Ingemar Jonsson, seorang pakar ekologi dari Universitas Kristianstad Swedia, membawa 3.000 ekor organisme renik tersebut dalam perjalanan 12 hari ke luar angkasa. Tujuannya mempelajari peluangnya hidup di lingkungan ekstrem luar angkasa.

"Temuan kami memastikan bahwa ruang hampa yang menyebabkan dehidrasi ekstrem dan radiasi kosmis bukan masalah bagi beruang air," ujar Jonsson. Namun, radiasi ultraviolet Matahari tetap merusak sel-sel tubuh hewan tersebut walaupun sebagian di antaranya tetap dapat bertahan hidup.

Jonsson menduga beruang air tetap mengalami kerusakan DNA saat terpapar radiasi tersebut. Hanya saja, gen yang dimilikinya mungkin memiliki kemampuan memperbaiki bagian tubuh yang rusak dengan cepat. Mungkin terdapat molekul khusus yang mengatur pemulihan tersebut.

Jika benar demikian, penelitian terhadap beruang air akan memberikan informasi berharga untuk mengembangkan pengobatan terhadap penyakit-penyakit turunan. Pada riset selanjutnya, para ilmuwan ditantang untuk mengetahui mekanisme di balik kemampuan beruang kutub mengatasi radiasi.

"Pengetahuan apa pun mengenai pemulihan kerusakan genetika merupakan pusat ilmu kedokteran," ujar Jonsson. Terapi radiasi untuk pengobatan kanker saat ini masih menghadapi masalah karena sel-sel yang sehat ikut berisiko rusak karena terpapar.kompas.com

Sunday, September 14, 2008

tunanan journal

Laporan Perjalanan



SHORT COURSE 2008 DI TUANAN KALIMANTAN TENGAH



Ekologi Primata; Teori dan Metode Pengamatan di Lapangan



Oleh :

Moh. Arif Rifqi


FAKULTAS BIOLOGI UNIVERSITAS NASIONAL, JAKARTA

BEKERJASAMA DENGAN

AIM ZURICH UNIVERSITY SWISS



Beberapa hari sebelum ujian, di papan infromasi Fakultas Biologi UNAS, terpampang infromasi mengenai kegiatan Short Couse yang diselenggarakan oleh Fakultas Biologi UNAS bekerjasama dengan Zurich University Swisterland tentang Ekologi Primata; Berikut dengan Teori dan Metode Pengamatan di Lapangan. Saya merasa tertarik untuk mengikuti kegiatan tersebut, terlebih ketika tahu bahwa kegiatan ini gratis. Alhamdulillah, setelah saya mengirimkan lamaran untuk mengikuti kegiatan ini, tepat pada tanggal 3 Juli 2008 saya melihat nama saya termasuk di antara daftar nama mahasiswa lain yang lulus kualifikasi untuk ikut kegiatan ini. Sehari kemudian semua peserta kegiatan ini berkumpul di ruangan Dekan untuk membicarakan mengenai persiapan pemberangkatan.

Singkat cerita pada tanggal 12 Juli 2008, tim Short Course yang terdiri dari 10 peserta, 7 di antaranya adalah mahasiswa dan 3 dosen menerima teori dan metode pengamatan di lapangan dari Prof. Dr. Carel van Schaik dari AIM Zurich University di ruangan Laboratorium Mikrobiologi dan Genetika. Mereka adalah Kak Wulan, Kak Indah, Kak Taufik, Kak Devi, Kak Hesmi, Diki dan saya sendiri. Sementara dari dosen adalah Drs. Gautama Wisnubudi, MSi., Dra. Retno Widowati, MSi., Dra. Noverita, MSi., dan Drs. Tatang Mitra Setia MS. Walaupun jadwal agak molor, presentasi dapat berlangsung dengan baik. Sampai sore kegiatan pembukaan ini selesai. Walaupun tidak semua materi selesai di sampaikan, itu dipending terlebih dahulu dengan harapan dapat dilanjutkan pada hari berikutnya di Palangkaraya.

Saya sudah mempersiapkan perlengkapan dan kebutuhan untuk kegiatan ini sebelum berangkat ke Lab. Sebab, saya merencanakan untuk berangkat dari rumah Dikky dengan alasan di antaranya, saya belum pernah ke bandara Soe-Ta dan pengiritan dana. Terus terang, uang yang saya bawa tidak lebih dari seratus ribu rupiah saja, dan itu harus cukup untuk biaya jajan di sana dan oleh-oleh.

Setelah presentasi, saya di suruh Pak Tatang untuk menemani Prof. Carel ke Hotel Maharani di daerah Mampang. Setelah itu, saya langsung ke rumah Dikky. Ada hal lucu yang terjadi setelah itu, binocular yang saya pinpukul dari lab. Zoologi tertinggal di sekret KSPL ”Chelonia”, untung saya pegang kuncinya. Tanpa pikir panjang saya langsung kembali ke Lab. dan mengambilnya dan kembali lagi ke rumah Dikky. Malam Tanggal 13 Juli 2008 saya dan Dikky sibuk menyiapkan dan mengecek barang-barang yang mesti dibawa. Setelah itu, kami istirahat untuk persiapan besoknya.

Pada pukul 04.00 WIB tanggal 13 Juli 2008 saya dan Dikky bangun, kemudian mandi dan kembali mengecek barang-barang yang akan kami bawa. Setelah semuanya siap, kami sarapan pagi terlebih dahulu. Setelah semua barang dimasukkan ke mobil Dikky, kami tidak lupa menjemput Pak Tatang. Setelah salat subuh di mushalla SPBU terdekat, kami langsung menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sesampainya di sana, ternyata Pak Gautama tiba duluan—dua setengah pukul sebelum pemberangkatan. Sambil menunggu teman-teman yang lain dan beberapa dosen, saya hanya bisa melihat-lihat di sekeliling bandara. Tidak lama kemudian kami semua berkumpul dan cek in dengan pemeriksaan yang ketat di bandara. Setelah memasukkan barang-barang berat ke loket bagasi, saya dan peserta Short Course yang lain menuju ke tempat peberangkatan. Karena jadwal pemberangkatan masih agak lama, kami jalan-jalan terlebih dahulu di sekitar bandara.

Tepat pada pukul 07.45 pesawat Garuda yang kami tumpangi berangkat dari Bandara Soe-Ta. Di pesawat saya satu deret dengan Dikky dan Kak Indah. Selama perjalanan, saya tidak lupa berdoa dan bersyukur untuk pertama kalinya naik pesawat. Walaupun agak gugup, tapi akhirnya terbiasa juga. Pemandangan dari atas peswat sangat indah. Seperti lautan yang mengahmpar luas dan menakjubkan. Gumpalan awan seolah-olah seperti salju di kutub selatan dan utara. Indah sekali, apalagi kami (saya, Dikky, dan Kak Indah) selalu melontarkan humor-humor segar selama perjalanan. Setelah dihidangi makanan oleh Pramugari, kamipun terlelap. Perjalanan dar Jakarta ke Palangkaranya kira-kira kami tempuh sekitar 1 pukul 22 menit. Sekitar pukul 10.45 WIB kami mendarat di Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya, suhu di sana sekitar 270C.

Walaupun suhu lebih rendah dari Jakarta, di Palangkaraya angin cenderung labih sedikit berhe,bus dibandingkan dengan di Jakarta. Jadi, terasa seolah-olah lebih panas. Setelah saya dan rombongan mengambil barang, kami sedikit mengambil gambar di bandara. Karena di luar Kak Gurit Cs sudah menunggu. Setelah keluar dari bandara, kami langsung menuju Mess di Palangkaraya, tempat di mana kami tinggal sementara.

Sesampainya di sana, kami langsung membawa barang-barang masing-masing ke kamar masing-masing. Saya satu kamar dengan Dikky, Kak Taufiq, dan Pak Gautama. Saya menyempatkan diri istirahat sebentar dan setelah itu ngobrol dan bercandaria di teras depan. Pada malam harinya, kami makan malam di Palangkaraya Mall dengan mengendarai ankot sambil berdesak-desakan dan tentu penuh dengan canda-tawa. Setelah makan malam kami langsung balik ke Mess dan Prof. Carel melanjutkan presentasi Teori dan Metode pengamatan di Lapangan dengan menitik tekankan pada proyek penelitian sarang Orangutan dan pembagian kelompok. Setelah kelompok di bagi, saya ada di kelompok D yang beranggotakan Pak Odom, Kak Wulan, Kak Indah, dan saya sendiri—walaupun nanti ditambah Pak Kia setelah samapi di Tuanan. Mata terasa sangat ngantuk, dan sayapun tanpa disadari tertidur di dapan televisi bersama Dikky.

Pada tanggal 14 Juli 2008, sesuai dengan rencana, saya dan rombongan bersiap-siap menuju Base Camp Tuanan. Dua mobil sejenis Kijang versi terbaru dan sebuah mobil Rangger dengan gagah telah menunggu keberangkatan kami. Setelah semua barang bawaan siap, kami langsung berangkat tepat pada jam 12.31 di jam HP saya. Dalam satu mobil, saya bersama dengan Pak Tatang, Bu Nover, Bu Retno, Kak Wulan, dan dua anak Mapala Sylva Universitas Palangkaraya si Samuel dan Santi. Di tengah perjalanan, saya memandangi alam kalimantan dan melihat langsung bekas logging di sisi jalan. Selama perjalanan, saya lebih banyak tidur dari pada aktivitas lain di mobil. Jalan sangat lancar dan enak, apalagi didukung dengan mobil yang mantap; lelap. Baru pada sekitar pukul 12.00 WIB kami makan siang di dekat jalan persimpangan antara jalan menuju Palangkarya dan Banjarmasin. Seperti biasa, makan siang kali ini tetap di tarktir sama Bos Carel. Setelah makan, saya dan rombongan langsung menuju tempat penyebarangan Sungai Kapuas di Mandomai dengan ferrry sederhana. Karena khawatir, fondasi kayu penyebarangan tidak kuat, maka penumpang mobil satu persatu turun dari mobil dan mobil menyebrang satu persatu secara bergiliran.

Setelah semua mobil menyebarang, kami melanjutkan perjalanan ke Mentangai untuk langsung menuju Tuanan. Perjalanan sesi kedua ini agak sedikit mengganggu renacana tidurku. Jalan tidak lagi semulus semula. Tetapi tak jarang juga saya tertidur, sebab perut sudah kenyang disertai capeknya perjalanan; saya membayangkan seperti perjalanan dari ujung Madura ke Surabaya.

Sesampainya di Mentangai, kami memasukkan barang-barang terlebih dahulu ke boat, menyusul satu persatu anggota rombongan menaikinya. Setelah semuanya siap, boatpun melaju dengan akselerasi yang harmonis. Di tengah perjalanan saya menyaksikan pemnadangan yang luar biasa indahnya. Di tengah aliran anak Sungai Kapuas, berjejer pohon-pohon yang lebat; apabila melihat ke belakang dapat menyaksikan air yang membelah rapi dan angin kencang menghembus dari depan; kadang pula melihat pemukiman penduduk yang semi-tradisional di pingir sungai. Yang menarik, di pinggiran sungai kadang saya menemukan gereja dan masjid yang mungil. Menurut kabar, antara agama yang satu dengan agama yang lain di daerah kalteng jumlahnya hampir mirip satu sama lain. Karena hal-hal itulah, saya lebih memilih berdiri di margin boat, dari pada kursinya. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk ”melahap-habis” pemandangan sungai Kalimantan. Rabbana ma khalaqta hadza batilan.

Suasana sore menambah indah pemandangan sungai, dengan riak air yang tenang dipecah oleh ujung boat yang melaju kencang, beramu harmonis dengan suasana hati yang gembira mendapatkan kesempatan berharga ini. Tidak lama kemudian, kamipun sampai di Pasir Putih, tempat pelabuhan boat di Tuanan. Pantas dengan namanya, di daerah ini pasir putih—seputih kapur—menghampar luas, dan konon pasir tersebut ditambang untuk dikomersilkan. Perjalanan kurang lebih 2 km menuju Base Camp diwarnai dengan sambutan aneka tumbuh-tumbuhan di sekitar jalan. Kata Pak Tatang, di daerah tersebut pada Tahun 2003 mengalami kebakaran dan tahun 2008 sudah mulai melebat. Banyak kami temukan Nephentes Sp. di sekitar jalan. Tepat pada pukul 16.15 WIB saya tiba di base camp. Kamar saya di lantai dua bersama dengan Dikky, Samuel (Samy), dan Kak Taufiq. Bersebelahan dengan kamar Pak Tatang dan Pak Gautama.

Pada malam harinya, kami berkumpul di ruangan makan untuk makan malam. Setalah itu kami berdiskusi dan merencanakan kegiatan pada hari pertama. Kelompok saya mendapatkan job yang sama dengan kelompok E untuk mendata fenologi pohon di jalur WS dengan data yang harus diselesaikan selama dua hari sebanyak 800 pohon. Setalah diskusi selesai, kami balik ke kamar masing-masing untuk istirahat dan mempersiapkan tenaga untuk frist trip besoknya. Data yang akan kelompok D ambil meliputi: Brance Angel, Canopy Cover, Leaf Distribution, Leaf Size, Leaf Texture, Nesting (class, position, PPD, dan high). Tanpa terlalu banyak basa-basi, saya pun terlelap dengan harapan pagi dapat bangun dengan suasana lebih baik.

Tanggal 15 Juli 2008.

Hari pertama turun langsung ke lapangan. Setalah sarapan pagi, saya langsung siap-siap untuk ke lapangan. Dengan segala macam perlengkapan lapangan, saya dan kelompok saya berangkat bersama dengan kelompok lain untuk pengenalan dasar tentang lapangan dan teknik pengukuran. Saya berjalan di atas track papan di sepanjang jalur WS dengan peserta Short Course yang lain. Papan agak licin. Sebab, semalam sebelumnya hujan mengguyur cukup deras. Setelah berjalan agak lama, kami berkumpul dan bersama mengamati contoh sarang di jalur WS, namun sayangnya, sarangnya masuk kelas IV, jadi kurang jelas. Setalah itu, si Prof. memperkenalkan teknik pengukuran tinggi pohon, dengan sampel sebuah pohon tinggi yang ditandai dengan garis dan tulisan merah. Setelah selesai, semua peserta berpencar sesuai dengan daerah pengamatannya masing-masing. Kelompok saya kembali ke depan untuk memulai di pohon nomer satu.

Satu persatu pohon mulai didata. Baru berkisar dua puluhan, kepala saya sudah mulai capek. Terlebih pikiran saya yang selalu berputar-putar dengan kepala mendangak menambah capek. Tetapi hal itu bisa teratasi dengan bercanda sekedarnya dengan anggota kelompok. Dan entah kenapa selalu saya yang jadi bahan tertawaan. Ah! Hal itu saya pikir biasa, dari pada jenuh karena terlalu serius.

Pak Odom dengan begitu lihainya, tampak mendominasi peran di kelompok kami Dengan sabar dan komprehensif, dia menjelaskan kepada kami banyak hal tentang fenologi. Kadang dia selalu menguji apa yang telah dia jelaskan. Kadang, kelompok kami menemukan kesulitan untuk mengukur leaf size dan texture, sementara daun sangat tinggi di atas pohon. Tetapi, hal itu tidak terlalu menghambat bagi Pak Odom, karena dia mengabil daun itu dari anak pohon atau dari daun-daun yang jatuh. Juga, atas saran dialah kami mengantongi beberapa daun yang kami ukur ukuran dan teksturnya.

Kira-kira jam 12.30 WIB, kami makan siang di persimpangan menuju jalu AI dan KS. Makan siangpun tidak bisa lepas dari tertawa dan tersenyum. Walaupun kata orang tua makan sambil tertawa itu tidak baik, tapi kali ini susah untuk dipatuhi. Pada saat makan siang, kelompok kami di temani kak Firman.

Setelah makan siang, kelompok kami bisa bekerja lebih cepat dari sebelumnya. Sebab, kami mulai terbiasa dengan pengamatan fenologi. Dan akhirnya pada pukul 16.15 WIB, kami menyudahi pengamtan di hari pertama walaupun hanya dengan 300 pohon yang terdata. Tubuh saya terasa sangat capek dan ingin buru-buru istirahat.

Pada malam harinya, setelah makan malam yang heboh, kami mendiskusikan hasil pengamatan masing-masing kelompok yang dimoderatori Pak Carel. Diskusi berlangsung seru dan menarik. Walaupun semakin malam semakin mengantuk, alhamdulillah saya dapat mengikuti diskusi sampai selesai.

Setelah diskusi selesai, saya kembali ke kamar dan sebelum tidur, masih saja sempat untuk bercanda dengan teman-teman sekamar; especially whit Samy Imut. Kantuk tetaplah kantuk. Dan akhirnya, tampa sengaja saya pun tertidur pulas sebelum jam 22.00 WIB—diperkirakan dengan jam dimatikannya diesel.

16 Juli 2008

Hari selanjutnya tampak lebih ringan dari pada hari pertama. Saya dan teman-teman satu kelompok mulai lancar dalam melakukan pendataan fenologi. Tetapi, walau bagaimanapun juga, capek tetaplah capek, dan itu saya rasa manusiawi. Namun, rasa capek tidak menjadi penghambat yang signifikan bagi perjalanan saya dan teman-teman.

Pengamatan fenologi seolah-olah seperti berulang-ulang—atau memang. Rutinitas kurang memberikan hiburan bagi saya dalam upaya fun researching. Setelah cukup lama, kami membagi dua kelompok untuk mempercepat pendataan. Kelompok pertama Pak Odom, Kak Wulan, dan Kak Indah melanjutkan jalur; kelompok kedua saya dan Pak Kia menyisir dari nomor fenologi paling belakang. Jadi nanti kami bertemu di tengah-tengah.

Selama pengamatan berlangsung, banyak sekali ditemukan nomor-nomor fenologi yang rusak, jatuh atau saling-silang. Seperti pada satu spot ada nomor 409 dan di dekatnya kadang ada juga nomor seperti 701. Jadi, untuk kelompok kedua hal ini mengharuskan ketelitian yang lebih dibandingkan hanya lurus-lurus saja mengikuti nomor urut fenologi.

Tidak lama kemudia, kedua kelompok tadi bertemu di titik tengah. Setelah sempat ngobrol dan bercanda, masing-masing kelompok menyelesaikan dulu pekerjaan masing-masing. Kelompok kedua istirahat terlebih dahulu.

Setelah kelompok pertama selesai, mereka langsung menuju tempat saya dan Pak Kia istirahat. Kami makan siang bersama. Berbumbu canda dan tawa tiada henti dan pedasnya cabe kritik-kritik kocak. Tak ayal, beberapa dari kelompok kami pingin buang hajat besar dan kecil. Namun, mereka tidak mau melakukannya di tengah hutan. Terpaksa mereka pulang cepat. Tinggallah saya dan Pak Kia yang masih menyelesaikan tugas.

Setelah semuanya benar-benar beres, saya dan Pak Kia kembali ke Camp. Ternyata di Camp sudah ada kelompok F yang lebih dulu sampai. Kami cukup puas dengan perolehan 500 pohon pada hari kedua ini dengan waktu setengah hari saja. Bicara mengenai validitas data, saya percaya pada kredibilitas Pak Odom dan Pak Kia yang memang itulah salah pekerjaan mereka di hutan.

Malam harinya, seperti biasa kami berdiskusi satu sama lain. Pak Carel cukup puas dengan data yang kami peroleh. Walaupun pada mulanya dia agak ragu, namun setelah mendengar penuturan Pak Odom diapun percaya. Diskusi berlangsung seru dengan pertanyaan-pertanyaan unik dan filosofis dari Prof. Carel. Setelah diskusi selesai, saya jalan-jalan dulu ke depan Camp. dan setelah itu baru istirahat.

17 Juli 2008

Pada hari selanjutnya, kelompok saya mendapatkan bagian untuk menghitung sarang sarang yang ditemukan dalam radius 20 meter dari titik temu persipangan empat arah di jalur A-ML dan A-EF. Pada pengamatan kali ini, sebenarnya kami melakukan pengulangan dari hasil yang didapat kelompok B dan C.

Nuansa baru; mencari sarang memang mengasyikkan. Bagi Pak Odom seolah-olah dia hafal dengan tempatnya. Dia dengan jeli membedakan mana sarang orang utan, tupai, atau sekumpulan daun padat saja.

Pada jalur A-ML kami melakukannya di lima plot dan menemukan 13 sarang. Sedangkan pada jalur A-EF kami melakukannya di lima plot juga dan menemukan 12 sarang. Yang unik adalah dari jalur A-EF, pada plot 1 dan 4 hanya ada satu sarang; plot 2 dan 3 tidak ada sarang sama sekali; pada plot 5 justru ada 8 plot.

Dari hasil pengamatan kami waktu itu, pada malam harinya sempat menjadi bahan diskusi yang menarik. Sebab, hasil dari kelompok B dan C jauh lebih sedikit dari hasil kelompok D. Namun, lagi-lagi Pak Odom yang dapat menjelaskan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi selama pengamatan. Pada malam itu saya yang presentasi.

Setelah diskusi, saya dan teman-teman yang lain kembali berkumpul di depan pintu masuk Camp, sekedar bercanda ria dan tukar-menukar informasi. Sebelum kembali ke kamar, saya mampir dulu di tempat cuci baju di samping dapur, pada saat itu Diky dan Kak Taufiq sedang cuci baju. Baru setelah itu saya kembali ke kamar dan tidur.

18 Juli 2008

Pada hari selanjutnya, kelompok saya kebagian line transect di jalur AI. Lagi-lagi ini pangulangan dari hasil kelompok C. Metode ini biasanya kurang baik hasilnya. Sebab, semua yang ada di sekitar transect dianggap representatif. Sehingga, kalau misalnya ada penghitungan densitas, maka biasanya nilanya lebih kecil dibandingkan metode yang lain. Metode Line Transect sangat mudah di lakukan. Pengamat hanya tinggal berjalan lurus di jalur dan mengamati sarang yang ditemukan selama pengamatan, itupun hanya yang dapat dilihat dari track.

Lagi-lagi Pak Odom beraksi. Pada hari sebelumnya kelompok C hanya mendapatkan sekitar 30-an sarang. Sedangkan kelompok kami mendapatkan 62 sarang. Tak ayal malam harinya menjadi perbicangan hangat setelah makan malam yang heboh—karena berat sebelah. Sehingga muncul statement dari Prof. Carel bahwa, kalau mau pengamatan sarang, Pak Odom ahlinya.

Malam itu kembali lagi main ke depan Camp. dan seperti biasa tidur setelah kembali ke Camp. Bedanya, malam itu kami sedikit mengambil gambar di tengah cahaya bulan purnama di bumi Borneo.

19 Juli 2008

Pada hari terakhir, kelompok kami dapat giliran mencoba Nest Focus. Yaitu mengamati dan mencatat sarang yang ditemukan pada plot-plot tertentu dengan kualifikasi kelas-kelas sarang tertentu. Setelah plot ditemukan, kami mengukur sekitar radius 20 meter sebagai area pengamatan. Menurut saya, ini cukup rumit dibandingkan metode-metode lain yang dipraktikkan pada short course kali ini. Tidak jauh beda dengan Nest Plot yang harus menembus semak belukar untuk mengukur radius dan mencari sarang. Namun nest focus harus diketahui terlebih dahulu plot yang masuk kualifikasi.

Area pengamatan kami dibagi dua dengan kelompok B. Bagian kami di jalur AI dari interval 890 – 1600 dan plot AI-S dan plot RF-S. Pengamatan terakhir ini lebih banyak menyita tenaga dibandingkan dengan yang lain. Namun, kadang-kadang ada beberapa plot yang tidak sesuai dengan kriteria kulaifikasi. Jadi, kelompok kami lebih baik tidak mendatanya untuk menghidari bias data. Hasil yang kami peroleh sekitar 5-10 sarang yang menyebar dan tidak jauh beda dengan yang lain. Setelah makan siang, kami kembali ke Camp lewat jalur KO (Kisar Odom). Selama perjalanan pulang, kami bertemu dengan burung unik berekor panjang dan Lutung Merah. Tidak lama kemudian kami sampai pertama ke Camp.

Merasa kurang puas, saya dan Pak Odom kembali masuk hutan untuk ambil gambar dan kalau bisa ingin bertemu orang utan. Pak Odom mengajari saya cara Long Call utuk mengetahui posisi orang utan. Hal itu tidak sia-sia. Beberapa kali saya meniru Long Call-nya, ada sahutan Long Call dari dua arah berbeda.

Setelah cukup capek keliling-keliling hutan, kami kembali lagi ke Camp dan istirahat sebentar. Perasaan terasa lega. Semua sudah dilaksanakan. Tinggal laporan nanti malam saja. Namun, seolah ada hal yang akan hilang setelah selesai short course ini. Perasaa saya bilang seperti itu.

Pada malam harinya diskusi berlangsung alot. Walaupun tidak ada hal unik lagi sperti malam-malam sebelumnya, tetapi saya merasa labih mengerti dengan penelitian ini. Sebab, malam terakhir, kami menarik kesimpulan dari hasil latihan peneltian singkat ini. Yaitu, bahwa sarang kelas IV-nya orang utan dalam pembuatannya di Tuanan memilki frekuensi lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain; pohon-pohon tertentu juga ada yang paling diminati sebagai sarang karena leave texture, branch angel, dan sejenisnya.

Namun, masih ada sisa. Ada beberapa plot untuk nest plot yang selisih temuan sarang antara satu kelompok dengan kelompok yang lain cukup signifikan. Akhirnya, pada pagi harinya mereka sepakat untuk peninjauan ulang ke lokasi. Mereka yang berangkat yaitu Prof Carel, Kak Ari Medidit, Kak Taufiq.

Setelah diskusi, saya dan teman-teman, juga dosen-dosen yang lain pergi ke depan pintu masuk. Kami banyak mengambil gambar di malam terakhir sembari ditemani bulan yang purnama. Banyak canda ria yang terlepas. Lebih-lebih kepada Kak Neneng dan Kak Adoy yang masih penelitian di sana.

Malam yang sangat indah dan ceria dengan canda dan tawa. Semua seolah belum sepenuhnya menyadari bahwa ada kemungkinan besok akan murung—tapi tidak usah terlalu dipikirkan. Ada awal ada akhir.

Malam terakhir saya tidur lebih larut dibandingkan biasanya. Kantuk ternyata masih bisa merebahkan jasadku, meskipun ada banyak rasa yang membludak di pikiranku. Subhanallah! Pengalaman indah yang tidak akan pernah saya lupakan.

Akhirnya pagi terakhir di Hutan Borneo tiba juga. Tidak terasa enam hari begelut dengan samudera ilmu pengetahuan di alam nyata. Sembari siap-siap untuk pulang ke Palangkaraya, saya merapikan barang-barang untuk di bawa pulang ke Jakarta. Sekitar pukul 09.00 WIB saya dan peserta short course yang lain menuju ke Pasir Putih untuk naik Boat ke Mentangai. Di jalan kami banyak mengambil gambar. Mulai dari foto bersama di Camp hingga selama perjalanan di anak Sungai Kapuas.

Satu setengah jam kemudian saya dan rombongan sampai di Mentangai. Ternyata mobil penjemput belum sampai. Kami mampir di Kantor BOSF di sana. Setelah sempat istirahat sebentar, mobil pun tiba. Setelah shalat dzuhur, kami menuju mobil yang telah tiba sebelumnya. Perjalanan pulangpun dimulai. Saya satu mobil dengan Bu Retno, Kak Wulan, Kak Indah, dan Diky. Rasa kantuk cukup berat menggantung di mataku. Pas setelah makan siang di rumah makan dekat persipangan Palangkaraya-Banjarmasin. Di mobil saya istirahat—walaupun tidak tidur.

Sesampainya di kawasan Kota Palangkaraya, teman-teman se-mobil mampir di Sendy’s Swalayan. Tapi, saya pisah ke Warnet sebelah untuk lihat IP saya di internet. Sesampainya di Mess BOSF, teman-teman rombongan mobil lain sudah sampai semua. Malam itu, setelah makan-makan, saya dan teman-teman mampir lagi di Warnet untuk melihat nilai IP. Setelah itu, saya istirahat; melepas penat seharian di atas mobil.

21 Agustus 2008

Pagi harinya, setelah sarapan pagi. Kami siap-siap untuk ikut Simposium di Bapelkes Kalimantan Tengah. Ke sana kami naik angkot yang sudah dicharter. Sesampainya di sana, saya mengisi lembar registrasi peserta Simposium. Tidak berselang lama setelah simposium di mulai, saya dipanggil teman-teman. Katanya untuk wawancara di BKSDA Kalimantan Tengah. Setelah wawancara, kami kembali ke Bapelkes untuk mengikuti simposium.

Setelah simposium selesai. Saya mengopy files presentasi dari para pengisi simposium. Para pengisi simposium adalah kurang lebih enam orang pembicara inti, dari BOSF tiga orang di antaraya pak Odom dan tiga orang lainnya Pak Tatang, Kak Gurit, dan Prof. Carel.

Sebelum kembali ke Mess, kami mampir di toko souvenir. Teman-teman yang lain pada asyik belanja. Sementara saya bingung mau belanja apa. Selain uang yang hanya tinggal Rp. 50.000, souvenir- souvenirnya macam-macam dan mahal-mahal lagi. Gaya saya aja yang sok bertanya, sok sibuk milah-milah barang, sok heboh nanya harga, tapi belanjanya Cuma Rp. 20.000 itupun sebatas satu lusin souvenir gantungan kunci.

Maksud hati ingin beli T-Shirt, namun uang yang tidak cukup. Tetapi, alhamdulillah saya dipinjami Bu Retno Rp. 50.000 untuk belanja lagi. Itu saya manfaatkan untuk beli T-Shirt Borneo seharga Rp. 35.000. setelah belanja puas, saya dan teman-teman kembali ke Mess dan saya sampai ba’da maghrib.

Malam terakhir di bumi Borneo banyak saya lewatkan di depan internet. Maklumlah, kalau saya di Jakarta, hampir setiap hari selalu on-line. Kebayang geregetnya untuk ngenet setelah lebih dari seminggu tidak surfing in cyber wave. Setelah ngantuk, saya kembali ke Mess untuk tidur. Teman-teman yang lain banyak yang jalan-jalan keliling Palangkaraya, tetapi saya lebih memilih jalan-jalan keliling dunia. Hehe.

22 Juli 2008

Akhirnya pagi ini tiba juga. Setelah sarapan pagi, beres-beres, dan seremoni perpisahan, saya dan rombongan berangkat ke bandara Tjilik Riwut. Garuda dengan gagahnya menunggu kami. Setelah bercuap-cuap dengan teman-teman baru di Palangkaraya, kami langsung chek-in. Sambil menunggu pukul 11.15 WIB, saya hanya termenung, berusaha mengambil banyak hal yang abstrak dari yang tidak bisa didapat oleh fisik dan rasa.

Tidak lama kemudian, kami satu persatu naik ke pesawat. Tampak Pak Tatang dari jauh mengambil gambar kami. Lagi-lagi saya satu deret tempat duduk dengan Kak Indah dan Diky. Selama perjalanan pulang, saya sempat terlelap. Dan 1 jam 22 menit kemudian, kami tiba kembali di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Alhamdulillah!



Kesan dan Pesan

Pengalaman kali ini serba pertama kali : pertama kali naik pesawat—Garuda Indonesia lagi; pertama kali ke Hutan Borneo; pertama kali penelitian dengan Profesor dan Master-Master Sains; pertama kali melihat luasnya jaring-jaring konservasi Biologi; pertama kali melihat dan menyebrangi sungai terbesar di Indonesia, Sungai Kapuas; pertama kali menjelajahi hutan gambut; pertama kali jadi ”gila” di lapangan; pertama kali ketularan logat ”kah-kah”-nya Melayu Kalimantan; dan pertama kali-pertama kali lainnya.

Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi saya. Sebab, saya sudah mendapatkan ilmu tentang penelitian primata terlebih dahulu serta praktiknya di lapangan secara langsung. Saya berharap, kapan-kapan saya bisa ikut lagi kegiatan sejenis ini, untuk menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman saya.

Terima kasih tidak terhingga untuk Fakultas Biologi UNAS, AIM Zurich University, BOSF, Pak Tatang, dan pihak-pihak lain yang turut berkonstribusi bagi terlaksanya kegiatan ini. selain itu, terima kasih pula untuk Pak Odom, Pak Kia, Kak Wulan, dan Kak Indah yang menemani dan membimbing saya di kelompok D. Terakhir, Terima kasih untuk semua, khususnya yang membantu terselesainya pembuatan laporan perjalanan ini. Barvo Konservasi!

Beberapa hari sebelum ujian, di papan infromasi Fakultas Biologi UNAS, terpampang infromasi mengenai kegiatan Short Couse yang diselenggarakan oleh Fakultas Biologi UNAS bekerjasama dengan Zurich University Swisterland tentang Ekologi Primata; Berikut dengan Teori dan Metode Pengamatan di Lapangan. Saya merasa tertarik untuk mengikuti kegiatan tersebut, terlebih ketika tahu bahwa kegiatan ini gratis. Alhamdulillah, setelah saya mengirimkan lamaran untuk mengikuti kegiatan ini, tepat pada tanggal 3 Juli 2008 saya melihat nama saya termasuk di antara daftar nama mahasiswa lain yang lulus kualifikasi untuk ikut kegiatan ini. Sehari kemudian semua peserta kegiatan ini berkumpul di ruangan Dekan untuk membicarakan mengenai persiapan pemberangkatan.

Singkat cerita pada tanggal 12 Juli 2008, tim Short Course yang terdiri dari 10 peserta, 7 di antaranya adalah mahasiswa dan 3 dosen menerima teori dan metode pengamatan di lapangan dari Prof. Dr. Carel van Schaik dari AIM Zurich University di ruangan Laboratorium Mikrobiologi dan Genetika. Mereka adalah Kak Wulan, Kak Indah, Kak Taufik, Kak Devi, Kak Hesmi, Diki dan saya sendiri. Sementara dari dosen adalah Drs. Gautama Wisnubudi, MSi., Dra. Retno Widowati, MSi., Dra. Noverita, MSi., dan Drs. Tatang Mitra Setia MS. Walaupun jadwal agak molor, presentasi dapat berlangsung dengan baik. Sampai sore kegiatan pembukaan ini selesai. Walaupun tidak semua materi selesai di sampaikan, itu dipending terlebih dahulu dengan harapan dapat dilanjutkan pada hari berikutnya di Palangkaraya.

Saya sudah mempersiapkan perlengkapan dan kebutuhan untuk kegiatan ini sebelum berangkat ke Lab. Sebab, saya merencanakan untuk berangkat dari rumah Dikky dengan alasan di antaranya, saya belum pernah ke bandara Soe-Ta dan pengiritan dana. Terus terang, uang yang saya bawa tidak lebih dari seratus ribu rupiah saja, dan itu harus cukup untuk biaya jajan di sana dan oleh-oleh.

Setelah presentasi, saya di suruh Pak Tatang untuk menemani Prof. Carel ke Hotel Maharani di daerah Mampang. Setelah itu, saya langsung ke rumah Dikky. Ada hal lucu yang terjadi setelah itu, binocular yang saya pinpukul dari lab. Zoologi tertinggal di sekret KSPL ”Chelonia”, untung saya pegang kuncinya. Tanpa pikir panjang saya langsung kembali ke Lab. dan mengambilnya dan kembali lagi ke rumah Dikky. Malam Tanggal 13 Juli 2008 saya dan Dikky sibuk menyiapkan dan mengecek barang-barang yang mesti dibawa. Setelah itu, kami istirahat untuk persiapan besoknya.

Pada pukul 04.00 WIB tanggal 13 Juli 2008 saya dan Dikky bangun, kemudian mandi dan kembali mengecek barang-barang yang akan kami bawa. Setelah semuanya siap, kami sarapan pagi terlebih dahulu. Setelah semua barang dimasukkan ke mobil Dikky, kami tidak lupa menjemput Pak Tatang. Setelah salat subuh di mushalla SPBU terdekat, kami langsung menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sesampainya di sana, ternyata Pak Gautama tiba duluan—dua setengah pukul sebelum pemberangkatan. Sambil menunggu teman-teman yang lain dan beberapa dosen, saya hanya bisa melihat-lihat di sekeliling bandara. Tidak lama kemudian kami semua berkumpul dan cek in dengan pemeriksaan yang ketat di bandara. Setelah memasukkan barang-barang berat ke loket bagasi, saya dan peserta Short Course yang lain menuju ke tempat peberangkatan. Karena jadwal pemberangkatan masih agak lama, kami jalan-jalan terlebih dahulu di sekitar bandara.

Tepat pada pukul 07.45 pesawat Garuda yang kami tumpangi berangkat dari Bandara Soe-Ta. Di pesawat saya satu deret dengan Dikky dan Kak Indah. Selama perjalanan, saya tidak lupa berdoa dan bersyukur untuk pertama kalinya naik pesawat. Walaupun agak gugup, tapi akhirnya terbiasa juga. Pemandangan dari atas peswat sangat indah. Seperti lautan yang mengahmpar luas dan menakjubkan. Gumpalan awan seolah-olah seperti salju di kutub selatan dan utara. Indah sekali, apalagi kami (saya, Dikky, dan Kak Indah) selalu melontarkan humor-humor segar selama perjalanan. Setelah dihidangi makanan oleh Pramugari, kamipun terlelap. Perjalanan dar Jakarta ke Palangkaranya kira-kira kami tempuh sekitar 1 pukul 22 menit. Sekitar pukul 10.45 WIB kami mendarat di Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya, suhu di sana sekitar 270C.

Walaupun suhu lebih rendah dari Jakarta, di Palangkaraya angin cenderung labih sedikit berhe,bus dibandingkan dengan di Jakarta. Jadi, terasa seolah-olah lebih panas. Setelah saya dan rombongan mengambil barang, kami sedikit mengambil gambar di bandara. Karena di luar Kak Gurit Cs sudah menunggu. Setelah keluar dari bandara, kami langsung menuju Mess di Palangkaraya, tempat di mana kami tinggal sementara.

Sesampainya di sana, kami langsung membawa barang-barang masing-masing ke kamar masing-masing. Saya satu kamar dengan Dikky, Kak Taufiq, dan Pak Gautama. Saya menyempatkan diri istirahat sebentar dan setelah itu ngobrol dan bercandaria di teras depan. Pada malam harinya, kami makan malam di Palangkaraya Mall dengan mengendarai ankot sambil berdesak-desakan dan tentu penuh dengan canda-tawa. Setelah makan malam kami langsung balik ke Mess dan Prof. Carel melanjutkan presentasi Teori dan Metode pengamatan di Lapangan dengan menitik tekankan pada proyek penelitian sarang Orangutan dan pembagian kelompok. Setelah kelompok di bagi, saya ada di kelompok D yang beranggotakan Pak Odom, Kak Wulan, Kak Indah, dan saya sendiri—walaupun nanti ditambah Pak Kia setelah samapi di Tuanan. Mata terasa sangat ngantuk, dan sayapun tanpa disadari tertidur di dapan televisi bersama Dikky.

Pada tanggal 14 Juli 2008, sesuai dengan rencana, saya dan rombongan bersiap-siap menuju Base Camp Tuanan. Dua mobil sejenis Kijang versi terbaru dan sebuah mobil Rangger dengan gagah telah menunggu keberangkatan kami. Setelah semua barang bawaan siap, kami langsung berangkat tepat pada jam 12.31 di jam HP saya. Dalam satu mobil, saya bersama dengan Pak Tatang, Bu Nover, Bu Retno, Kak Wulan, dan dua anak Mapala Sylva Universitas Palangkaraya si Samuel dan Santi. Di tengah perjalanan, saya memandangi alam kalimantan dan melihat langsung bekas logging di sisi jalan. Selama perjalanan, saya lebih banyak tidur dari pada aktivitas lain di mobil. Jalan sangat lancar dan enak, apalagi didukung dengan mobil yang mantap; lelap. Baru pada sekitar pukul 12.00 WIB kami makan siang di dekat jalan persimpangan antara jalan menuju Palangkarya dan Banjarmasin. Seperti biasa, makan siang kali ini tetap di tarktir sama Bos Carel. Setelah makan, saya dan rombongan langsung menuju tempat penyebarangan Sungai Kapuas di Mandomai dengan ferrry sederhana. Karena khawatir, fondasi kayu penyebarangan tidak kuat, maka penumpang mobil satu persatu turun dari mobil dan mobil menyebrang satu persatu secara bergiliran.

Setelah semua mobil menyebarang, kami melanjutkan perjalanan ke Mentangai untuk langsung menuju Tuanan. Perjalanan sesi kedua ini agak sedikit mengganggu renacana tidurku. Jalan tidak lagi semulus semula. Tetapi tak jarang juga saya tertidur, sebab perut sudah kenyang disertai capeknya perjalanan; saya membayangkan seperti perjalanan dari ujung Madura ke Surabaya.

Sesampainya di Mentangai, kami memasukkan barang-barang terlebih dahulu ke boat, menyusul satu persatu anggota rombongan menaikinya. Setelah semuanya siap, boatpun melaju dengan akselerasi yang harmonis. Di tengah perjalanan saya menyaksikan pemnadangan yang luar biasa indahnya. Di tengah aliran anak Sungai Kapuas, berjejer pohon-pohon yang lebat; apabila melihat ke belakang dapat menyaksikan air yang membelah rapi dan angin kencang menghembus dari depan; kadang pula melihat pemukiman penduduk yang semi-tradisional di pingir sungai. Yang menarik, di pinggiran sungai kadang saya menemukan gereja dan masjid yang mungil. Menurut kabar, antara agama yang satu dengan agama yang lain di daerah kalteng jumlahnya hampir mirip satu sama lain. Karena hal-hal itulah, saya lebih memilih berdiri di margin boat, dari pada kursinya. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk ”melahap-habis” pemandangan sungai Kalimantan. Rabbana ma khalaqta hadza batilan.

Suasana sore menambah indah pemandangan sungai, dengan riak air yang tenang dipecah oleh ujung boat yang melaju kencang, beramu harmonis dengan suasana hati yang gembira mendapatkan kesempatan berharga ini. Tidak lama kemudian, kamipun sampai di Pasir Putih, tempat pelabuhan boat di Tuanan. Pantas dengan namanya, di daerah ini pasir putih—seputih kapur—menghampar luas, dan konon pasir tersebut ditambang untuk dikomersilkan. Perjalanan kurang lebih 2 km menuju Base Camp diwarnai dengan sambutan aneka tumbuh-tumbuhan di sekitar jalan. Kata Pak Tatang, di daerah tersebut pada Tahun 2003 mengalami kebakaran dan tahun 2008 sudah mulai melebat. Banyak kami temukan Nephentes Sp. di sekitar jalan. Tepat pada pukul 16.15 WIB saya tiba di base camp. Kamar saya di lantai dua bersama dengan Dikky, Samuel (Samy), dan Kak Taufiq. Bersebelahan dengan kamar Pak Tatang dan Pak Gautama.

Pada malam harinya, kami berkumpul di ruangan makan untuk makan malam. Setalah itu kami berdiskusi dan merencanakan kegiatan pada hari pertama. Kelompok saya mendapatkan job yang sama dengan kelompok E untuk mendata fenologi pohon di jalur WS dengan data yang harus diselesaikan selama dua hari sebanyak 800 pohon. Setalah diskusi selesai, kami balik ke kamar masing-masing untuk istirahat dan mempersiapkan tenaga untuk frist trip besoknya. Data yang akan kelompok D ambil meliputi: Brance Angel, Canopy Cover, Leaf Distribution, Leaf Size, Leaf Texture, Nesting (class, position, PPD, dan high). Tanpa terlalu banyak basa-basi, saya pun terlelap dengan harapan pagi dapat bangun dengan suasana lebih baik.

Tanggal 15 Juli 2008.

Hari pertama turun langsung ke lapangan. Setalah sarapan pagi, saya langsung siap-siap untuk ke lapangan. Dengan segala macam perlengkapan lapangan, saya dan kelompok saya berangkat bersama dengan kelompok lain untuk pengenalan dasar tentang lapangan dan teknik pengukuran. Saya berjalan di atas track papan di sepanjang jalur WS dengan peserta Short Course yang lain. Papan agak licin. Sebab, semalam sebelumnya hujan mengguyur cukup deras. Setelah berjalan agak lama, kami berkumpul dan bersama mengamati contoh sarang di jalur WS, namun sayangnya, sarangnya masuk kelas IV, jadi kurang jelas. Setalah itu, si Prof. memperkenalkan teknik pengukuran tinggi pohon, dengan sampel sebuah pohon tinggi yang ditandai dengan garis dan tulisan merah. Setelah selesai, semua peserta berpencar sesuai dengan daerah pengamatannya masing-masing. Kelompok saya kembali ke depan untuk memulai di pohon nomer satu.

Satu persatu pohon mulai didata. Baru berkisar dua puluhan, kepala saya sudah mulai capek. Terlebih pikiran saya yang selalu berputar-putar dengan kepala mendangak menambah capek. Tetapi hal itu bisa teratasi dengan bercanda sekedarnya dengan anggota kelompok. Dan entah kenapa selalu saya yang jadi bahan tertawaan. Ah! Hal itu saya pikir biasa, dari pada jenuh karena terlalu serius.

Pak Odom dengan begitu lihainya, tampak mendominasi peran di kelompok kami Dengan sabar dan komprehensif, dia menjelaskan kepada kami banyak hal tentang fenologi. Kadang dia selalu menguji apa yang telah dia jelaskan. Kadang, kelompok kami menemukan kesulitan untuk mengukur leaf size dan texture, sementara daun sangat tinggi di atas pohon. Tetapi, hal itu tidak terlalu menghambat bagi Pak Odom, karena dia mengabil daun itu dari anak pohon atau dari daun-daun yang jatuh. Juga, atas saran dialah kami mengantongi beberapa daun yang kami ukur ukuran dan teksturnya.

Kira-kira jam 12.30 WIB, kami makan siang di persimpangan menuju jalu AI dan KS. Makan siangpun tidak bisa lepas dari tertawa dan tersenyum. Walaupun kata orang tua makan sambil tertawa itu tidak baik, tapi kali ini susah untuk dipatuhi. Pada saat makan siang, kelompok kami di temani kak Firman.

Setelah makan siang, kelompok kami bisa bekerja lebih cepat dari sebelumnya. Sebab, kami mulai terbiasa dengan pengamatan fenologi. Dan akhirnya pada pukul 16.15 WIB, kami menyudahi pengamtan di hari pertama walaupun hanya dengan 300 pohon yang terdata. Tubuh saya terasa sangat capek dan ingin buru-buru istirahat.

Pada malam harinya, setelah makan malam yang heboh, kami mendiskusikan hasil pengamatan masing-masing kelompok yang dimoderatori Pak Carel. Diskusi berlangsung seru dan menarik. Walaupun semakin malam semakin mengantuk, alhamdulillah saya dapat mengikuti diskusi sampai selesai.

Setelah diskusi selesai, saya kembali ke kamar dan sebelum tidur, masih saja sempat untuk bercanda dengan teman-teman sekamar; especially whit Samy Imut. Kantuk tetaplah kantuk. Dan akhirnya, tampa sengaja saya pun tertidur pulas sebelum jam 22.00 WIB—diperkirakan dengan jam dimatikannya diesel.

16 Juli 2008

Hari selanjutnya tampak lebih ringan dari pada hari pertama. Saya dan teman-teman satu kelompok mulai lancar dalam melakukan pendataan fenologi. Tetapi, walau bagaimanapun juga, capek tetaplah capek, dan itu saya rasa manusiawi. Namun, rasa capek tidak menjadi penghambat yang signifikan bagi perjalanan saya dan teman-teman.

Pengamatan fenologi seolah-olah seperti berulang-ulang—atau memang. Rutinitas kurang memberikan hiburan bagi saya dalam upaya fun researching. Setelah cukup lama, kami membagi dua kelompok untuk mempercepat pendataan. Kelompok pertama Pak Odom, Kak Wulan, dan Kak Indah melanjutkan jalur; kelompok kedua saya dan Pak Kia menyisir dari nomor fenologi paling belakang. Jadi nanti kami bertemu di tengah-tengah.

Selama pengamatan berlangsung, banyak sekali ditemukan nomor-nomor fenologi yang rusak, jatuh atau saling-silang. Seperti pada satu spot ada nomor 409 dan di dekatnya kadang ada juga nomor seperti 701. Jadi, untuk kelompok kedua hal ini mengharuskan ketelitian yang lebih dibandingkan hanya lurus-lurus saja mengikuti nomor urut fenologi.

Tidak lama kemudia, kedua kelompok tadi bertemu di titik tengah. Setelah sempat ngobrol dan bercanda, masing-masing kelompok menyelesaikan dulu pekerjaan masing-masing. Kelompok kedua istirahat terlebih dahulu.

Setelah kelompok pertama selesai, mereka langsung menuju tempat saya dan Pak Kia istirahat. Kami makan siang bersama. Berbumbu canda dan tawa tiada henti dan pedasnya cabe kritik-kritik kocak. Tak ayal, beberapa dari kelompok kami pingin buang hajat besar dan kecil. Namun, mereka tidak mau melakukannya di tengah hutan. Terpaksa mereka pulang cepat. Tinggallah saya dan Pak Kia yang masih menyelesaikan tugas.

Setelah semuanya benar-benar beres, saya dan Pak Kia kembali ke Camp. Ternyata di Camp sudah ada kelompok F yang lebih dulu sampai. Kami cukup puas dengan perolehan 500 pohon pada hari kedua ini dengan waktu setengah hari saja. Bicara mengenai validitas data, saya percaya pada kredibilitas Pak Odom dan Pak Kia yang memang itulah salah pekerjaan mereka di hutan.

Malam harinya, seperti biasa kami berdiskusi satu sama lain. Pak Carel cukup puas dengan data yang kami peroleh. Walaupun pada mulanya dia agak ragu, namun setelah mendengar penuturan Pak Odom diapun percaya. Diskusi berlangsung seru dengan pertanyaan-pertanyaan unik dan filosofis dari Prof. Carel. Setelah diskusi selesai, saya jalan-jalan dulu ke depan Camp. dan setelah itu baru istirahat.

17 Juli 2008

Pada hari selanjutnya, kelompok saya mendapatkan bagian untuk menghitung sarang sarang yang ditemukan dalam radius 20 meter dari titik temu persipangan empat arah di jalur A-ML dan A-EF. Pada pengamatan kali ini, sebenarnya kami melakukan pengulangan dari hasil yang didapat kelompok B dan C.

Nuansa baru; mencari sarang memang mengasyikkan. Bagi Pak Odom seolah-olah dia hafal dengan tempatnya. Dia dengan jeli membedakan mana sarang orang utan, tupai, atau sekumpulan daun padat saja.

Pada jalur A-ML kami melakukannya di lima plot dan menemukan 13 sarang. Sedangkan pada jalur A-EF kami melakukannya di lima plot juga dan menemukan 12 sarang. Yang unik adalah dari jalur A-EF, pada plot 1 dan 4 hanya ada satu sarang; plot 2 dan 3 tidak ada sarang sama sekali; pada plot 5 justru ada 8 plot.

Dari hasil pengamatan kami waktu itu, pada malam harinya sempat menjadi bahan diskusi yang menarik. Sebab, hasil dari kelompok B dan C jauh lebih sedikit dari hasil kelompok D. Namun, lagi-lagi Pak Odom yang dapat menjelaskan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi selama pengamatan. Pada malam itu saya yang presentasi.

Setelah diskusi, saya dan teman-teman yang lain kembali berkumpul di depan pintu masuk Camp, sekedar bercanda ria dan tukar-menukar informasi. Sebelum kembali ke kamar, saya mampir dulu di tempat cuci baju di samping dapur, pada saat itu Diky dan Kak Taufiq sedang cuci baju. Baru setelah itu saya kembali ke kamar dan tidur.

18 Juli 2008

Pada hari selanjutnya, kelompok saya kebagian line transect di jalur AI. Lagi-lagi ini pangulangan dari hasil kelompok C. Metode ini biasanya kurang baik hasilnya. Sebab, semua yang ada di sekitar transect dianggap representatif. Sehingga, kalau misalnya ada penghitungan densitas, maka biasanya nilanya lebih kecil dibandingkan metode yang lain. Metode Line Transect sangat mudah di lakukan. Pengamat hanya tinggal berjalan lurus di jalur dan mengamati sarang yang ditemukan selama pengamatan, itupun hanya yang dapat dilihat dari track.

Lagi-lagi Pak Odom beraksi. Pada hari sebelumnya kelompok C hanya mendapatkan sekitar 30-an sarang. Sedangkan kelompok kami mendapatkan 62 sarang. Tak ayal malam harinya menjadi perbicangan hangat setelah makan malam yang heboh—karena berat sebelah. Sehingga muncul statement dari Prof. Carel bahwa, kalau mau pengamatan sarang, Pak Odom ahlinya.

Malam itu kembali lagi main ke depan Camp. dan seperti biasa tidur setelah kembali ke Camp. Bedanya, malam itu kami sedikit mengambil gambar di tengah cahaya bulan purnama di bumi Borneo.

19 Juli 2008

Pada hari terakhir, kelompok kami dapat giliran mencoba Nest Focus. Yaitu mengamati dan mencatat sarang yang ditemukan pada plot-plot tertentu dengan kualifikasi kelas-kelas sarang tertentu. Setelah plot ditemukan, kami mengukur sekitar radius 20 meter sebagai area pengamatan. Menurut saya, ini cukup rumit dibandingkan metode-metode lain yang dipraktikkan pada short course kali ini. Tidak jauh beda dengan Nest Plot yang harus menembus semak belukar untuk mengukur radius dan mencari sarang. Namun nest focus harus diketahui terlebih dahulu plot yang masuk kualifikasi.

Area pengamatan kami dibagi dua dengan kelompok B. Bagian kami di jalur AI dari interval 890 – 1600 dan plot AI-S dan plot RF-S. Pengamatan terakhir ini lebih banyak menyita tenaga dibandingkan dengan yang lain. Namun, kadang-kadang ada beberapa plot yang tidak sesuai dengan kriteria kulaifikasi. Jadi, kelompok kami lebih baik tidak mendatanya untuk menghidari bias data. Hasil yang kami peroleh sekitar 5-10 sarang yang menyebar dan tidak jauh beda dengan yang lain. Setelah makan siang, kami kembali ke Camp lewat jalur KO (Kisar Odom). Selama perjalanan pulang, kami bertemu dengan burung unik berekor panjang dan Lutung Merah. Tidak lama kemudian kami sampai pertama ke Camp.

Merasa kurang puas, saya dan Pak Odom kembali masuk hutan untuk ambil gambar dan kalau bisa ingin bertemu orang utan. Pak Odom mengajari saya cara Long Call utuk mengetahui posisi orang utan. Hal itu tidak sia-sia. Beberapa kali saya meniru Long Call-nya, ada sahutan Long Call dari dua arah berbeda.

Setelah cukup capek keliling-keliling hutan, kami kembali lagi ke Camp dan istirahat sebentar. Perasaan terasa lega. Semua sudah dilaksanakan. Tinggal laporan nanti malam saja. Namun, seolah ada hal yang akan hilang setelah selesai short course ini. Perasaa saya bilang seperti itu.

Pada malam harinya diskusi berlangsung alot. Walaupun tidak ada hal unik lagi sperti malam-malam sebelumnya, tetapi saya merasa labih mengerti dengan penelitian ini. Sebab, malam terakhir, kami menarik kesimpulan dari hasil latihan peneltian singkat ini. Yaitu, bahwa sarang kelas IV-nya orang utan dalam pembuatannya di Tuanan memilki frekuensi lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain; pohon-pohon tertentu juga ada yang paling diminati sebagai sarang karena leave texture, branch angel, dan sejenisnya.

Namun, masih ada sisa. Ada beberapa plot untuk nest plot yang selisih temuan sarang antara satu kelompok dengan kelompok yang lain cukup signifikan. Akhirnya, pada pagi harinya mereka sepakat untuk peninjauan ulang ke lokasi. Mereka yang berangkat yaitu Prof Carel, Kak Ari Medidit, Kak Taufiq.

Setelah diskusi, saya dan teman-teman, juga dosen-dosen yang lain pergi ke depan pintu masuk. Kami banyak mengambil gambar di malam terakhir sembari ditemani bulan yang purnama. Banyak canda ria yang terlepas. Lebih-lebih kepada Kak Neneng dan Kak Adoy yang masih penelitian di sana.

Malam yang sangat indah dan ceria dengan canda dan tawa. Semua seolah belum sepenuhnya menyadari bahwa ada kemungkinan besok akan murung—tapi tidak usah terlalu dipikirkan. Ada awal ada akhir.

Malam terakhir saya tidur lebih larut dibandingkan biasanya. Kantuk ternyata masih bisa merebahkan jasadku, meskipun ada banyak rasa yang membludak di pikiranku. Subhanallah! Pengalaman indah yang tidak akan pernah saya lupakan.

Akhirnya pagi terakhir di Hutan Borneo tiba juga. Tidak terasa enam hari begelut dengan samudera ilmu pengetahuan di alam nyata. Sembari siap-siap untuk pulang ke Palangkaraya, saya merapikan barang-barang untuk di bawa pulang ke Jakarta. Sekitar pukul 09.00 WIB saya dan peserta short course yang lain menuju ke Pasir Putih untuk naik Boat ke Mentangai. Di jalan kami banyak mengambil gambar. Mulai dari foto bersama di Camp hingga selama perjalanan di anak Sungai Kapuas.

Satu setengah jam kemudian saya dan rombongan sampai di Mentangai. Ternyata mobil penjemput belum sampai. Kami mampir di Kantor BOSF di sana. Setelah sempat istirahat sebentar, mobil pun tiba. Setelah shalat dzuhur, kami menuju mobil yang telah tiba sebelumnya. Perjalanan pulangpun dimulai. Saya satu mobil dengan Bu Retno, Kak Wulan, Kak Indah, dan Diky. Rasa kantuk cukup berat menggantung di mataku. Pas setelah makan siang di rumah makan dekat persipangan Palangkaraya-Banjarmasin. Di mobil saya istirahat—walaupun tidak tidur.

Sesampainya di kawasan Kota Palangkaraya, teman-teman se-mobil mampir di Sendy’s Swalayan. Tapi, saya pisah ke Warnet sebelah untuk lihat IP saya di internet. Sesampainya di Mess BOSF, teman-teman rombongan mobil lain sudah sampai semua. Malam itu, setelah makan-makan, saya dan teman-teman mampir lagi di Warnet untuk melihat nilai IP. Setelah itu, saya istirahat; melepas penat seharian di atas mobil.

21 Agustus 2008

Pagi harinya, setelah sarapan pagi. Kami siap-siap untuk ikut Simposium di Bapelkes Kalimantan Tengah. Ke sana kami naik angkot yang sudah dicharter. Sesampainya di sana, saya mengisi lembar registrasi peserta Simposium. Tidak berselang lama setelah simposium di mulai, saya dipanggil teman-teman. Katanya untuk wawancara di BKSDA Kalimantan Tengah. Setelah wawancara, kami kembali ke Bapelkes untuk mengikuti simposium.

Setelah simposium selesai. Saya mengopy files presentasi dari para pengisi simposium. Para pengisi simposium adalah kurang lebih enam orang pembicara inti, dari BOSF tiga orang di antaraya pak Odom dan tiga orang lainnya Pak Tatang, Kak Gurit, dan Prof. Carel.

Sebelum kembali ke Mess, kami mampir di toko souvenir. Teman-teman yang lain pada asyik belanja. Sementara saya bingung mau belanja apa. Selain uang yang hanya tinggal Rp. 50.000, souvenir- souvenirnya macam-macam dan mahal-mahal lagi. Gaya saya aja yang sok bertanya, sok sibuk milah-milah barang, sok heboh nanya harga, tapi belanjanya Cuma Rp. 20.000 itupun sebatas satu lusin souvenir gantungan kunci.

Maksud hati ingin beli T-Shirt, namun uang yang tidak cukup. Tetapi, alhamdulillah saya dipinjami Bu Retno Rp. 50.000 untuk belanja lagi. Itu saya manfaatkan untuk beli T-Shirt Borneo seharga Rp. 35.000. setelah belanja puas, saya dan teman-teman kembali ke Mess dan saya sampai ba’da maghrib.

Malam terakhir di bumi Borneo banyak saya lewatkan di depan internet. Maklumlah, kalau saya di Jakarta, hampir setiap hari selalu on-line. Kebayang geregetnya untuk ngenet setelah lebih dari seminggu tidak surfing in cyber wave. Setelah ngantuk, saya kembali ke Mess untuk tidur. Teman-teman yang lain banyak yang jalan-jalan keliling Palangkaraya, tetapi saya lebih memilih jalan-jalan keliling dunia. Hehe.

22 Juli 2008

Akhirnya pagi ini tiba juga. Setelah sarapan pagi, beres-beres, dan seremoni perpisahan, saya dan rombongan berangkat ke bandara Tjilik Riwut. Garuda dengan gagahnya menunggu kami. Setelah bercuap-cuap dengan teman-teman baru di Palangkaraya, kami langsung chek-in. Sambil menunggu pukul 11.15 WIB, saya hanya termenung, berusaha mengambil banyak hal yang abstrak dari yang tidak bisa didapat oleh fisik dan rasa.

Tidak lama kemudian, kami satu persatu naik ke pesawat. Tampak Pak Tatang dari jauh mengambil gambar kami. Lagi-lagi saya satu deret tempat duduk dengan Kak Indah dan Diky. Selama perjalanan pulang, saya sempat terlelap. Dan 1 jam 22 menit kemudian, kami tiba kembali di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Alhamdulillah!



Kesan dan Pesan

Pengalaman kali ini serba pertama kali : pertama kali naik pesawat—Garuda Indonesia lagi; pertama kali ke Hutan Borneo; pertama kali penelitian dengan Profesor dan Master-Master Sains; pertama kali melihat luasnya jaring-jaring konservasi Biologi; pertama kali melihat dan menyebrangi sungai terbesar di Indonesia, Sungai Kapuas; pertama kali menjelajahi hutan gambut; pertama kali jadi ”gila” di lapangan; pertama kali ketularan logat ”kah-kah”-nya Melayu Kalimantan; dan pertama kali-pertama kali lainnya.

Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi saya. Sebab, saya sudah mendapatkan ilmu tentang penelitian primata terlebih dahulu serta praktiknya di lapangan secara langsung. Saya berharap, kapan-kapan saya bisa ikut lagi kegiatan sejenis ini, untuk menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman saya.

Terima kasih tidak terhingga untuk Fakultas Biologi UNAS, AIM Zurich University, BOSF, Pak Tatang, dan pihak-pihak lain yang turut berkonstribusi bagi terlaksanya kegiatan ini. selain itu, terima kasih pula untuk Pak Odom, Pak Kia, Kak Wulan, dan Kak Indah yang menemani dan membimbing saya di kelompok D. Terakhir, Terima kasih untuk semua, khususnya yang membantu terselesainya pembuatan laporan perjalanan ini. Barvo Konservasi!

Wednesday, February 6, 2008

adsense

Article
Mendulang Dollar dengan Google Adsense

Author: adehendra | Published: 21st April 2007
Category: Internet dan Web, Adsense dan Bisnis di Internet | Popularity: 19%

Google Adsense, program affiliasi untuk bisnis internet yang sangat popular di dunia online saat ini. Semua orang bisa berpartisipasi menjadi pengiklan bagi google dengan syarat mudah dan cepat, cukup dengan menempatkan iklan-iklan google di situs mereka. Dengan metode komisi pay per click (PPC), menghasilkan uang dari google metodenya jauh lebih sederhana dan sangat liquid, beda dengan affiilasi lainnya, yang mengharuskan kita menjual sesuatu baru mendapatkan komisi. Google Adsense telah membawa revolusi baru dalam bisnis internet, pogram ini telah menghasilkan jutawan online tanpa harus mencari investor-investor besar seperti yang biasa dilakukan perusahaan-perusahaan dot com dari Silicon valley.

Apa itu Google Adwords dan Google Adsense,

Sebelum mengenal lebih juga tentang Google Adsense, sedikit terlebih dahulu akan diulas Google Adwords yang merupakan cikal bakal kelahiran Google Adsense. Google Adwords adalah program periklanan yang ditawarkan google kepada para pemilik situs yang ingin mempromosikan situsnya, dengan cara menampilkan link situs pengiklan di hasil pencarian untuk kata kunci (keyword) tertentu.

Contoh : jika kita melakukan pencarian di google dengan kata kunci welding misalnya, maka selain hasil pencarian, di bagian seperempat di sebelah kanan akan muncul Sponsored Link / Pesan Sponsor.

Tentu saja, para pemasang iklan akan dikenakan sejumlah biaya tergantung dari kepopuleran kata kunci yang dipilihnya.

Namun Google menyadari, meskipun dia sekarang ini menjadi search engine nomor satu di dunia, tidak semua pengguna internet di dunia yang memakai google sebagai mesin pencari, sehingga iklan di google adwords, belum mampu menjangkau seluruh pengguna internet, oleh karena itu mereka menawarkan kepada pemilik situs untuk memasang iklan google adwords di situs mereka dengan pola bagi hasil yang disebut Google Adsense . Jika ada seseorang yang mengunjung situs peserta adsense dan mengklik iklan yang ada di situs tersebut, maka pemilik situs akan mendapat komisi dari google, metode pembayaran komisi seperti ini biasa disebut dengan nama pay per click (PPC).

Berapa banyak komisi yang Diterima?

Komisi yang didapatkan tergantung iklan yang ditempatkan di situs kita. Google sendiri akan menempatkan iklan sesuai dengan isi/content situs . Harga Pay per click sendiri ditentukan oleh seberapa mahal kata kunci tersebut dihargai oleh pemasang iklan Adwords, misalnya kata kunci welding mungkin cuma dihargai 0.5 dolar per klik, tetapi kata kunci insurance misalnya bisa dihargai hingga 30 dolar per klik. Kata-kata kunci yang bernilai tinggi inilah yang disebut dengan High Paying Keyword (HPK). Situs-situs dengan topik spesifik untuk kata kunci (keyword) tertentu disebut situs niche. (contoh situs niche http://www.welding-engineering.com/ dengan topic welding).

Bayangkan jika kita bisa membuat situs yang dikunjungi 1000 orang per hari , dan asumsikan ada 10% yang mengklik iklan dengan komisi 1 dolar per klik, maka dalam sehari situs itu sudah menghasilkan 100 dolar/hari atau 3000 dolar per bulan. Lumayan kan, jauh lebih tinggi dari gaji fresh graduate. Seandainya punya 10 situs serupa, hitung aja sendiri penghasilannya. Di Indonesia sendiri, sudah ada beberapa orang yang meraih komisi diatas 10.000 dolar per bulan, yang dapat ribuan dolar sudah banyak, apalagi yang cuma ratusan.

Di Amerika sendiri, banyak yang sudah mendapat ratusan ribu bahkan jutaan dolar, seperti situs plentyoffish. com ( perjodohan) atau digg.com ( berita) atau ezinearticles. com, hebatnya rata-rata situs mereka bukan lahir dari perusahaan-perusahaan besar silicon valley ( seperti yahoo, google, etc), tapi dari rumahan, ya dari rumah dengan modal PC yang terkoneksi ke internet.

Bagaimana cara ikutan Program Google Adsense?

Dari keterangan yang saya sebutkan di atas, tentu saja untuk ikut program ini, yang harus kita punya adalah situs untuk meletakkan iklan, kalau berdagang, situs ibarat toko, dan iklan adalah barang dagangannya. Setelah punya situs dengan topik/niche tertentu (e.g. education, consultant, farm, etc), kita bisa apply di google.com/adsense , lakukan registrasi, kemudian google akan mereview situs kita, jika memenuhi syarat dan diterima, google akan memberikan kode-kode html yang bisa kita masukkan di situs kita. Jadi deh… simple kan…?

Eiits… tunggu dulu, bagaimana kalau yang gak ngerti bikin situs… ? .. jangan khawatir, untuk pemula buat aja blog (kalau ini pasti sudah banyak yang ngerti), blog juga bisa dipasangi adsense. Bagi pemula berikut langkah-langkah membuat blog adsense (prosesnya gak lebih dari sejam):

1.
Tentukan topik blog yang akan dibuat ( misal. self development. music, education. etc).
2.
Buat blog di blogger.com, kenapa harus blogger, karena blogger masih punya google, jadi lebih gampang untuk di approve, jka sudah expert bisa pakai yang lain.
3.
Cari artikel tentang topik yang sudah dipilih, ( cari aja google, banyak, bisa diedit, atau langsung copy paste tapi tentu dengan mencantumkan sumbernya), posting artikel di blog 10-15 posting, kemudian baru melamar untuk ikutan program adsense via situs google.com/adsense
4. Setelah lamaran diterima, kita dikasih account yang isinya macam2, diantaranya report jumlah klik dan komisi yang kita peroleh, disitu juga kode2 html yang tinggal yang tinggal di copy paste ke situs kita. Untuk di blogger caranya gampang banget, tinggal tambahin page element, kemudian klik add html/javascript, copy-kan adsense kode disitu. Jadi deh.

Remark: untuk waktu approval dari google, tergantung situs, bisa langsung approve, atau sehari malah kadang lebih.

Ada beberapa macam type iklan di google, namun yang umum dipakai adalah adsense for content dan adsense for search .

Ibarat jualan, toko sudah jadi, isi toko sudah ada, sekarang apa?… yah tinggal cari pembeli, ini tahap yang agak berat dan butuh waktu. Percuma kita punya toko tanpa ada yang beli. Yang disebut pembeli yaitu pengunjung situs kita, atau di dunia online umum disebut sebagai traffic. Semakin banyak traffic situs kita, berarti semakin tinggi kemungkinan iklan di klik dan semakin banyak komisi yang kita terima.

Nah untuk hal ini, bagaimana cara meningkatkan traffic ke situs kita secara general ada banyak cara untuk mendapatkan traffic, salah satu contohnya adalah mendapatkan traffic gratis dengan search engine. Contoh kembali lagi ke awal, jika kita mengetikkan kata kunci welding di google, ada lebih dari 30 juta hasil pencarian (gambar 1). Mana yang paling mungkin dibuka para pengunjung? ya halaman terdepan dong. Jika situs kita muncul di halaman pertama akan sangat bagus, halaman kedua atau ketiga masih OK-lah, tapi bagaimana jika di halaman 20?… siapa yang mau liat :) ..

Tentu semua adsenser ingin situs niche-nya akan muncul di halaman awal di hasil pencarian di google, bagaimana agar situs kita muncul di halaman awal?.. caranya adalah dengan Search Engine Optimization (SEO), apa itu SEO, akan saya lanjutkan di artikel berikutnya.

Friday, February 1, 2008

Short Story

Sejarah Singkat Perkembangan Teori Atom
Disusun Oleh : Moh. Arif Rifqi*

Istilah atom pertama kali digunakan oleh Demokritus (460 – 357 S.M) yang berasal dari kata “a” yang artinya “tidak” dan “tomos” yang artinya pecah, atau dibagi. Artinya, atom adalah zarrah yang terkecil yang tidak dapat dibagi lagi. Konsep ini murni lahir dari pemikiran , buka dari eksperimen ilmiah. Namun, konsep atom Demokritus telah memberi sumabngsih yang sangat berharga bagi perkembangan teori atom selanjutnya. Berikut beberapa tokoh ilmuwan yang sangat berjasa bagi sejarah perkembangan atom dan teori yang mereka kemukakan.
1. John Dalton (1766-1844)
Seorang ilmuwan Inggris bernama John Dalton pada tahun melakukan percobaan-percobaan tentang atom yang terinspirasi dari konsep Demokritus. Berdasarkan hasil eksperimennya itu, pada tahun 1808 dia menyatakan sebuah teori atom yang sangat berharga bagi sejarah perkembangan teori atom selanjutnya dan cukup berhasil untuk menjelaskan berbagai reaksi kimia yang dikenal dengan model atom bola pejal.
Di dalam teorinya, Dalton menyatakan beberapa konsepsi tetang atom. Di antaranya adalah sebagai berikut:
· Atom merupakan bagian terkecil dari suatu unsur yang tidak dapat dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil lagi
· Atom-atom suatu unsur semuanya berupa sama, serupa dan tidak dapat berubah menjadi atom unsure lain.
· Dua atom atau lebih yang berasal dari unsure-unsur yang berlainan dapat membentuk suatu mulekul.
· pada suatu reaksi kimia, atom-atom berpisah dan kemudian bergabung kembali dengan susunan yang berbeda dar semula, tetapi massa keseluruhannya tetap. Gagasan ini sesuai dengan hokum Laviosier yanga menyatakan bahwa massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah tetap.
Lebih lanjut Dalton mengemukakan bahwa dalam suatu reaksi kimia, atom-atom bergabung menurut perbandingan tertentu yang sederhana. Kelemahan dari teori ini adalah, teori ini tidak mampu menerangkan bagaimana suatu larutan dapat menghantarkan listrik. Bagaimana mungkin suatu bola pejal dapat menghantarkan listrik, padahal listrik adalah elektron yang bergerak. Berarti ada artikel lain yang dapat menyebabkan terjadinya daya hantar listrik.
2. JJ. Thomson
Dengan ditemukannya elektron oleh Thomson, maka teori atom Dalton taidak dapat diterima lagi. Pada tahun 1904 dia mengelurakan teori tentang model atom. Dia dalam teorinya, dia menyatakan bahwa dalam suatu atom terdapat mutan-muatan positif yang kira-kira berdiameter sebersar 10-10m yang tersebar ke seluruh atom seperti roti kismis atau kue onde-onde yang dinetralkan oleh elektron-elektron yang tersebar di antara muatan positif tadi sehingga ada yang bersifat netral. Teori ini diterima secara luas oleh para ilmuawan hingga akhir abad ke-18. Thomson merupakan ilmuwan yang pertama kali menemukan elektron.
Sementara itu, kelemahan dari teori atom Thomson adalah, dia tidak dapat menjelaskan susunan muatan positif dan negatif dalam bola atom tersebut.
3. Ernest Rutherford
Ernest Rotherford melakukan pengujian terhadap teori atom Thomson, dengan cara menembaki lempengan emas yang sangat tipis (dengan ketebalan 0.01 mm) dengan partikel alfa. Jika model atom Thomson itu benar, maka gerkan partikel alfa tidak akan dibelokkan sewaktu menumbuk lempeng emas.
Namun, Rotherford mendapatkan hasil bahwa ternyata partikel alfa yang ditembakkan tidak semuanya mampu menembus lempeng emas secara lurus. Beberapa diantaranya ada yang di belokkan ke arah positif dan negatif dan sebagian ada yang dipantulakan kembali.
Dari percobaan tersebut, dia berkesimpulan bahwa sebagian partikel alfa dipantulakn kembali karena bertumbukan dengan bagian yang sangat keras dari atom, yang disebut inti atom. Pada tahun 1911 dia mengemukakan teori atom yang baru. Dalam teorinya, dia menyatakan bahwa atom terdiri proton, elektron dan neotron, juga bahwa inti atom dikelilingi oleh elektron-elektron pada jarak yang relatif jauh dimana elektron-elektron berputar mengelilingi inti atom dengan garis orbitnya laiknya sistem tata surya. Selanjutnya, percobaan ini dialnjutkan oleh James Chadwick (1932), yang memastikan bahwa partikel lain pada inti atom tersebut adalah neotron.
Sementara itu, kelemahan dari teori ini adalah, Rotherford tidak dapat menjelaskan mengapa electron tidak jatuh ke dalam inti atom. Karena, secara fisik gerakan electron mengelilingi inti disertai pemancaran energi yang lama-kelamaan akan berkurang dan mendekati inti, kemudian habis dan jatuh ke dalam inti.
4. Niels Bohr
Pada tahun 1913, ahli fisika Denmark memperbaiki model atom Bohr yang dikombinasilkan dengan konsep teori kuantum. Model atom Bohr di dasarkan pada dua postulat yaitu: (a). electron tidak dapat dapat berputar di sekitar inti melalui setiap lintasan, tetapi hanya dapat melalui lintasan-lintasan tertentu saja tanpa membebaskan energi. Lintasan tersebut dinamakan lintasan stasioner. Lintasan-lintasan tersebut mempunyai momntum anguler. (b). sebuah electron akan menyerap dan memancarkan energi bila berpindah dari lintasan tertentu ke lintasan lainnya. Jika berpindah dari lintasan ke lintasan yang lebih tinggi, maka electron akan menyerap energi. Jika beralih ke yang lebih rendah, maka akan memancarkan energi.
Kelebihan dari teori ini adalah bahwa atom terdiri dari beberapa kulit untuk tempat berpindahnya electron. Sedangkan kelemahan dari teori ini antara lain: model atom Bohr tidak menerangkan pengaruh medan magnet terhadap spektrum atom, model ini hanya dapat menerangakn model atom hidrogen saja. Sedangkan, untuk atom yang berelektron banyak mempunyai perhitungan yang lebih rumit, tidak dapat menjelskan spektrum warna dari atom berelektron banyak.


*Mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Nasional Aktif Juga Sebagai Anggota Lutung Forum Studi Primata Fabiona

Monday, October 29, 2007

Lihat ni gambar dong!



tampak yang pakai baju hitam si owner, lagi diskusi di depan kantor Flora Fauna International di Laboratoratorium Pusat Universitas Nasional. lihat tu...!bang Edward sama Dikky lagi khusyuk dengerin argumenku

Thursday, October 25, 2007

Artikel Sastra

HISTORI NOVEL SASTRA
DAN ANTISIPASI TERHADAP PENELANAN-MENTAH NILAI INSTIRISIKNYA

Oleh:
Mohammad Arif Rifqi


Pendahuluan

Eksistensi novel sastra di dunia baca-tulis lebih memiliki signifikansi dan pengaruh dibandingkan buku-buku ilmiah. Hal tersebut tidak lepas dari daya tarik novel sastra itu sendiri, kegemaran dan kualitas pemahaman pembaca. Memang, di bandingkan buku-buku ilmiah, novel sastra lebih banyak di gemari. Bisa di katakan buku-buku yang berpridikat best seller lebih banyak novel sastra di bandingkan buku-buku ilmiah ; Walaupun sama-sama mendapat predikat best saller, tetapi secara kuantitas selisih keduanya cukup jauh.
Histori Singkat
Di Indonesia sering kali kabur untuk menyebut karya prosa yang wujudnya sama. yaitu istilah roman dan novel. Hal ini berawal dari dua pandangan yang berbeda. Pandangan pertama, yang membedakan istilah tersebut. Menurut mereka roman mengisahkan tokoh sejak lahir sampai meninggal. Sedangkan novel, hanya mengisahkan tentang sebagian tokoh yang nasibnya mengalami perubahan.
Pendapat kedua, menyamakan kedua istilah tersebut. Sehingga mereka menggunakan kedua istilah tersebut untuk karya sastra yang sama. Maka wajar, apabila sayembar menulis roman yang di selenggarakan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) selalu di menangkan oleh karya sastra berupa novel .
Secara historis, awal mula munculnya kata novel ialah pada massa renaissance (abad ke14 sampai abad 17), yaitu ketika penulis Italia bernama Giovani Boccacio menggunakan istilah novella untuk narasi pendek di II pecca merone, yaitu kumpulan seratus cerita yang bagus dan cerdas yang di set dalam satu bingkai cerita. Setelah ceritanya di terjemahkan ke dalam bahasa Inggris, kata novel diserap menjadi istilah bahasa Inggis. Namun kata novella dalam bahasa Inggris akhir-akhir ini merujuk pada novel pendek lebih dikenal dengan istilah novelet.
Dari sudut pandang lain, novel kembali terbagi menjadi dua jenis berdasarkan gaya cerita yang disajikan. Yaitu novel Teenlit atau Chiklit dan novel sastra. Ada beberapa kalangan yang mengganggap novel sejenis Teenlit atau Chiklit dapat mengganggu stabilitas gramatologi bahasa Indonesia seperti sinyalmen bahwa penulis novel serial Lupus, Hilman Hariwijaya telah “merusak” tata bahasa Indonesia dengan gaya bahasa yang cendrung seenaknya. Tetapi, kemudian, NH. Dini, pengarang ternama, membelanya dengan argumen bahwa meskipun gaya bahasanya cuek, Hilman tetap menjaga gaya bahasa .
Disamping itu, novel sastra yang lebih cendrung membicarakan masalah-masalah HAM, keadilan, kesetaraan gender, budaya dan religiusitas lebih di anak emaskan sebagai karya yang lebih mendidik. Tapi, lain halnya dengan pelarangan terhadap novel –novel Pramudya Ananta Toer pada masa orde baru, karena dituduh sebagai buku yang mengandung ajaran-ajaran komunisme tanpa alasan yang konkret, tetapi gap-gap tersebut sudah mulai hilang.
Pengaruh Terhadap Konstruksi Mental Pembaca
Masalah daya konstuksi mental novel sastra lebih berpengaruh. Karena melalui cerita, suatu amanah yang terkandung akan lebih mudah menyerap dan menyentuh ke sanubari pembaca. Dengan gaya bahasa sastrawi dan unsur instrinsik yang lebih diprioritaskan, maka novel sastra lebih dianakemaskan dari pada novel Teenlit atau Chiklit dengan unsur ekstrinsik yang lebih di prioritaskan. Tetapi, ini bukan konsep diskriminasi atau dikatomi yang di besar-besarkan, justru seperti apa yang di ungkapkan dalam al-Qura’an bahwa perbedaan adalah rahmat.
Di dunia kesusastraan Islam, novel sastra sangat di sambut antusias. Seperti munculnya sosok novelis science fiction Mustafa Mahmud, Naqib Mahfudz, novelis muda, Habiburrahman El-Shirazi, Muhammad Iqbal dan tokoh novelis lainnya . Semangat sastrawan islam tidak lepas dari pemahaman mereka bahwa al-Qur’an adalah sastra terbaik sepanjang masa. yang di dalamnya terdapat kisah-kisah yang penuh dengan hikmah bahkan terbaik. Marmaduke Pickthall mendiskripsikan al-Qur’an sebagai simfoni yang tak terelakkan yang menggerakkan manusia menuju kebahagiaan dan air mata. Semantara, menurut Thomas Carlyle al-Qur’an adalah tulisan paling rumit dan membingungkan yang pernah dia baca—hanya kewajiban yang mampu membuat orang-orang Eropa membacanya.
Bagaimana mungkin dunia cendikaiwan dengan latar belakang sama tapi menghasilkan dua pendapat yang berbeda. Jawabannya sedarhana, Picktall mampu berbahasa arab sedangka Carlyle tidak .
Walaupun apa yag kita baca tidak seratus persen dapat kita tangkap dan kita cerna. Tetapi, pengaruh membaca terhadap proses konstruksi mental individu tidak dapat ragukan lagi sinifikansinya. Orang yang sering membaca novel sastra tentu akan berbeda dengan seorang yang sehari-harinya akrab dengan buku atau persoalan eksasta ketika di harapkan pada masalah yang sama. Contoh kongkrit lainnya, di dunia politik, putusan-putusan dan kebijakan-kebijakan yang keluar dari parpol yang berasas islam dan parpol yang berasaskan pancasila. Salah satu penyebabnya adalah buku-buku yang mereka baca tentunya tidak sama.
Imaji yang terangkat dari karya sastra selalu merupakan gambaran utuh sebuah gagasan besar. Tidak terkecuali novel sastra. Dalam banyak hal kehadiran novel sastra bisa di sejajarkan dengan epos yang pada umumnya lahir dari konteks sejarah suatu lokal atau komonitas tertentu. Mungkin perbedaannya hanya terletak dalam bentuk dan gaya ekpresinya saja.
Novel sastra khususnya hanya bergerak dalam suatu lokalitas yang terbatas, partikular , namun representasinya sangat menentukan gagasan yang di usungnya. Dalam novel sastra, gagasan tersebut dimanifestasikan dalam sebuah “konflik abadi” antara si narator dengan tokoh yang di angkat. Menurut Bakhtin, ada “pluralitas dialogois” yang berlangsung diantara celah-celah narasi tekstual .
Signifikansi imajinasi dalan novel sangat penting. Setidaknya, karena ia juga menghadirkan fakta yang tersembunyi di balik ruang tekstual . Nuansa keindahan sebuh novel sastra juga memberi nuansa kebenaran; mengajaknya untuk bergulat dalam ruang dan waktu tempat eksistensi dan esensi manusia ada. Thomas Aquinas berkata bahwa, kebenaran dan keidahan tidak dapat di pisahkan, pulchrum est splendor veritatis. Bentuk dan ekspresi keindahan itu sendiri dapat melalui makna dan perlambangan (sinn und bedeuntung). Dan disinilah juga letak signifikansi novel sastra sebagai penyalur pesan nilai-nilai kebenaran yang dipadukan dengan nilai estetika yang sama-sama mendukung “adaptasi” dan “absorpasi” nilai-nilai dasar intern teks, seperti apa yang dimaksudkan Dewi Lestari (Dee) pada pengantar Novel Serialnya Supernova .
Dengan demikian, pengaruh novel sastra dalam pembentukan mental pembaca mempunyai “titik klimaks” ketika konflik antara pembaca dengan novel sastra berada pada kondisi adolesence. Sehingga, untuk novel sejenis Kabar Buruk dari Langit; Luka Cinta Pencari Tuhan dan Adam Hawa; Hawa bukan Wanita Pertama karya Muhidin M. Dahlan atau novel liar dan “sekuler” lain-lainnya patut kembali disaring dan diperhatikan; dimana sejatinya posisi pembaca ketika kekaburan imaji dengan kebiasaan menelan mentah-mentah amanat yang tidak terbendung ketika membaca novel sastra. Wallahua’lambisshawab.





Daftar Pustaka
Kritzeck, James. 2003. Simphoni Surga; Avant Grade Sastra Islam. Yogyakarta; Kota Kembang
Fajri, Dian Yasmina, dkk. 2004. Buku Sakti Menulis Fiksi. Jakarta: PT. Kamus Bina Tazkia
Kerraf, Gorys. 2000. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Namah, Jawid. 2003. Kitab Keabadian oleh Muhammad Iqbal. Jakarta: PT. Dunia Jaya Pustaka.
Dee. 2005. Supernova Episode Petir. Jakarta: Akur.
Dahlan, Muhidin M. 2004. Kabar Buruk dari Langit; Luka Cinta Pencari Tuhan. Yogyakarta. Screptamanent.
________________. 2005. Adam Hawa; Hawa Bukan Wanita Pertama. Yogyakarta. Screptamanent.
www. cybersastra.net/ essay/ mohammad al-fayyad
Majalah Bibliophile. Bandung, edisi Maret 2000

Friday, August 24, 2007

Resensi "Perpustakaan Ajaib"


Ketika Buku Bercerita Buku


Judul buku : Perpusatakaan Ajaib Bibbi Bokken

Penulis : Jostien Gaarder dan Klaus Hagerup

Penerbit : Mizan

Cetakan : III, Maret 2007

Tebal : 294 halaman

Peresensi : Moh. Arif Rifqi


Ketika buku membincang buku, berarti dunia baca-tulis mulai “membaca” dirinya sendiri dengan memberi ruang interpretasi tekstual yang lebih luas dan mendalam. Sehingga, otomatis karena upaya tersebut tidak bisa dipisahkan dari dimensi ghiroh kepenulisan dan histori yang melatar belakangi lahirnya karya tulis. Karena, pada dasarnya, dengan mencoba melakukan “introspeksi diri” (reinterpretasi), maka kejumudan membaca yang seringkali berakibat fatal pada lemahnya daya analisis analis teks.

Seperti yang dilakukan penulis novel Dunia Shopie, Jostien Gaarder yang berduet dengan penulis kawakan Norwegia, Klaus Hargerup membuat inovasi menarik di dunia novel melalui buah karya mereka yang membincang buku (perpustakaan) melalui sebuah novel. Cerita yang dimulai dari korespondensi dua saudara sepupu yang tinggal di dua kota yang berbeda, Nilss dan Berrit melalui buku-surat yang mereka saling kirimkan satu sama lain, dikemas dengan menarik dan penuh dengan misteri-misteri dan petualangan yang menggelitik adrenalin.

Pada mulanya korespondensi mereka hanya sebatas buah dari rangsangan Billie Holiday. Namun, konspirasi Bibbi Bokken yang mereka prediksi sedang memburu buku–surat mereka, membuat kedua sepupu bersaudara ini melakukan investigasi serius seraya bertindak sebagai “detektif cilik” untuk mengungkap misteri Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken.

Baik Nilss maupun Berrit pada mulanya tidak menyadari bahwa mereka menjadi pion-pion yang dikendalikan oleh Bibbi Bokken dan komplotannya. Namun, setelah mereka vis a vis langsung dengan Bibbi Bokken di Perpustakaan Ajaibnya, mereka baru mengetahui dan menyadari bahwa misteri Perpustakaan Ajaib yang mereka sangka sangat krusial ternyata lebih bertendensi pada kesempatan penuh yang memungkinkan buku-buku yang akan dan sedang ditulis, terbit—termasuk buku-surat mereka. Dalam beberapa abad mendatang, dari perpustakaan ajaib tersebut seganap fantasi yang terkumpulkan akan menjadi incunabula yang sangat berharga. Tentulah kata-kata akan dirangkai dengan cara lain, kalimat yang digunakan pasti tidak sama . Namun, segala yang terkumpul kemungkinan besar akan menjadi bahasa masa depan. Begitulah perpustakaan ajaib melahirkan bacaan baru. Keajaiban sejati dalam kehidupan kita (pun) terlahir sudah (hal. 245). karena memang ketika mereka berdua dibawa keruangan perpusatakaan ajaib oleh Bibbi Bokken, ruangan itu tidak lebih hanya rak-rak buku dan kertas-kertas berserakan. Bahkan, di ruangan itu mereka berdua menemukan sobekan kertas yang bertuliskan puisi yang mereka tulis di buku-surat mereka.

Petualangan mereka mengklimaks ketika salah satu anggota komplotan Bibbi Bokken ada yang tidak menyukai penerbitan buku–surat Nilss dan Berrit, Marcus ‘Similey’ Bouur Hansen. Dengan mengejawantahkan fantasi kreatif anak-anak yang kerap kali mengejutkan, mereka berusaha memupuskan harapan Similey.

Novel berlatar negri Norwegia dan sedikit menyinggung Italia ini, tampaknya lebih kental dengan gaya penulisan Jostien Gaarder melalui tokoh-tokoh mistrius seperti pada novel-novel sebelumnya yang serba misterius. Seperti kehadiran sosok Alberto Knox, Alberto Knax dan Hilde di kehidupan Shopie dalam novel Dunia Shopie atau tokoh gadis jeruk pada novel Gadis Jeruk (Orange Girl) . Sementara itu, nuansa petualangan kedua bocah dalam novel ini memberi ruang tersendiri bagin kreatifitas Klaus Hargerup yang memang kesehariannya banyak menulis buku-buku anak dan remaja.

Ketika membaca novel ini, pembaca seperti dibawa melihat satu kisah dengan dua “teropong” berbeda dalam waktu yang sama. Kedua penulis seolah–olah—atau memang—memegang dua tokoh sentral dan berlomba-lomba menulis “buku-surat” kemudian memadukannya secara harmonis. Sehingga, butuh ketelitian ekstra ketika membaca novel ini, utamanya pada bab kedua. Sebab pemisahan aku lirik antara Berrit dan Nils cukup sulit dibedakan; hanya dipisahakan oleh spasi ganda dan garis baru tidak berparagraf.

Disamping itu, gaya bahasa tulis Barat tidak sepenuhnya dapat disinkronkan dengan gaya bahasa tulis Indonesia oleh penerjemah. Sehingga, walaupun terkesan padat, kalimat-kalimatnya cukup sukar untuk dipahami oleh pembaca yang sebelumnya tidak pernah membaca novel sastra Barat terjemahan sama sekali.

Istimewanya, novel ini mempunyai makna dan kesan tersendiri di dunia baca-tulis. Sebab, disamping pembaca akan dibawa ke petulangan yang seru, pembaca juga diajak mengenal tokoh-tokoh legendaris di dunia baca-tulis Barat seperti Astrid Lindgren dan Annie Frank, hingga mengenal Dewey dan sistem DDC-nya (Decimal Dewey Clasification) yang bayak digunakan sebagai pedoman klasifikasi koleksi pustaka di berbagai perpustakaan se Dunia. Wajar apabila Ruhr Nachrit menyebut buku ini sebagi sebuah surat cinta kepada buku dan dunia penulisan. Karena, sejak revolusi terbesar sejarah budaya aksara dengan ditemukannya teknik movable type—teknik mencetak buku dengan huruf bongkar pasang yang terbuat dari timah hitam—oleh J. Gutenberg pada abad XV persebaran buku dengan jumlah yang besar-besaran menjadi salah satu faktor utama terbentuknya sebuah peradaban megah manusia yang juga disinggung pada novel ini. Masyarakat dunia tentu lebih memberi apresiasi lebih kepada intelektulisme Athena dari pada meliterisme Sparta. Sebab, Athena lebih mampu melahirkan buku dari pada senjata tajam Sparta—walaupun temponya jauh dari masa Gutenberg, tetapi masyarakat dunia lebih menyadari signifikansi buku dari pada senjata.

Sayangnya, kedua penulis ini tampaknya masih menganggap perpustakaan hanya sebatas koleksi buku saja. Padahal, saat ini sudah banyak perpustakaan yang tidak hanya mengoleksi buku saja. Walau bagaimanapun, novel ini cukup inovatif-informatif dan kreatif untuk dibaca siapa saja khususnya remaja untuk (semakin) mencintai dunia baca-tulis. “Intrikasi teks” pada novel ini seyogyanya menjadi pemantik semangat baru untuk meningkatkan insting penjelajah pembaca yang tentunya sangat bermanfaat untuk menaklukkan dan mengendalikan teks. Filosof postmodernis asal Jacques Derrida menyebutnya sebagai teori metafisika-kehadiran.





Moh. Arif Rifqi adalah pencinta dan pemerhati buku yang sedang mengasuh Taman Baca Al-Jailani tinggal di Sumenep

Monday, June 11, 2007

Cerpen

Dar Der Dor Maimun Maimunah

Oleh: Moh. Arif Rifqi

Urat-urat leherku terasa tumpang tindih dan berjalin kelidan tak beraturan satu sama lain. Mobil kecil yang kutumpangi terlalu kecil untuk tubuhku yang tinggi namun kurus kerempeng. Jalan berbatu terus memaksa leherku menari dengan paksa. Tidak peduli keringat ataupun amarah, semua sama-sama keluar dari pori-pori kulit dan hatiku. Sekeranjang ikan yang tidak laku jual dan agak membusuk menambah pengap suasana mobil. Ditambah lagi sopir dan keneknya terus saja mengepulkan asap rokok sambil memutar keras-keras musik yang mereka anggap keren, tapi bagiku gaduh. Tidak apalah, dari pada janjiku dengan Maimunah gagal, aku paksakan diri pengap-pengap ria menuju kesegaran luar-dalam lewat suara dan wajahnya.

Setelah melewati tikungan terakhir, mobil Carry tua yang kutumpangi berhenti di bawah pohon yang sangat besar. Kemudian, satu persatu dari penumpang turun sambil memberikan recehan lima ratus rupiah ke tangan kenek.

“Lima ratus…lima ratus…lima ratus” teriak Kenek dengan irama sumbang.
“Masih ingat sisa uang yang kemarin?” tanyaku.
“Sip bos !” jawabnya. Kemarin, aku membayar uang seribu rupiah. Tapi, kata kenek “entar kalau ikut mobil ini lagi gratis”. Apa mungkin tidak ada kembaliannya atau ada maksud-maksud lain, aku tidak mau tahu.
Kupandangi pantai dengan debur ombak yang berirama melankolis dan sebatang pohon yang mati di dekat pantai namun tampaknya masih cukup kuat untuk kupanjat. Aku menatap liar hampir keseluruh penjuru pantai. Tampak nelayan tua membawa sekeranjang ikan hasil tangkapannya kemudian mendekatiku.
“Nak, ikan ini masih segar. Enak lho kalau dipanggang dan dimakan di sana ” ujarnya sambil menunjuk hutan kecil yang tertata rapi membentuk terowongan dari ranting-ranting dan dedaunan sehingga sedikit menutupi sinar matahari untuk lansung menyinari tanah.
“Terimakasih kek. Saya kurang berselera pagi ini. Lain waktu saja”
Kulit wajah nelayan tua itu tampak semakin mengkerut. Dia meninggalkanku dengan langkah tertatih-tatih. Mungkin karena ikan-ikan yang dibawanya terlalu berat.
Jam di arlojiku menunjukkan setengah delapan kurang sepuluh menit. Sepulu menit lagi Maimunah akan menepati janjinya untuk bersua denganku untuk bersua di hutan kecil itu. Aku melangkahkan kakiku dengan wajah sumringah. Terasa berat kakiku melangkah diatas pasir, ditambah lagi mentari dhuha yang menyengat, membuat pori-pori kulitku utamanya di wajah dan leherku basah dengan keringat.
“Ca’ Maimun !”suara itu melengking dari arah yang kutuju. Namun tidak jelas suara siapa itu. Jangan-jangan Maimunah.
Tiba-tiba mataku tertuju pada sosok anggun berbaju cokelat dengan kulit hitam manis; Maimunah melambaikan tangannya. Aku memutuskan untuk mempercepat langkahku; melawan pasir dan terik.
“Hah… ah…hah, kamu sudah lama menungguku di sini ?“ tanyaku terengah-engah.
“Tidak juga Ca’” untaian kata singkatnya telah mebekukan aroma api yang kurasa membakarku sejak tadi.
“Bagaimana Ca’, sudah siap melamarku. Aku kemarin sudah bilang sama ayah bahwa kamu hari ini akan datang melamarku. Makanya ayah tadi pagi—agak kesiangan sih—sudah pulang kerumah”
“Tentu Maimunah” jawabku.
Maimunah mengajakku berjalan melewati jalan pintas menyusuri hutan kecil itu. Terowongan hijau nan indah dan kicau burung nan merdu seakan-akan sedang menjadi irama romantis perjalanan kami. Namun tiba-tiba…
“Auw! Ca’” tubuh Maimunah spontan melompat ke tubuhku dan memelukku. Kontan saja aku kaget.
“Ah si Maulu. Kamu takut ?” tanyaku sambil menatap matanya yang bening memancarkan kesejukan yang dibalut kekhawatiran. Kemudian melepaskan pelukannya.
“Maaf Ca’, mengagetkan Caca’ ” ucapnya malu.
“Tidak apa-apa, mari kita lanjutkan perjalanan. Barangkali calon mertuaku tidak sabar menanti menantunya” ucapku.
Maimunah tersipu malu. Rona wajah yang semula redup kini bersinar lagi membias lembut hatiku setelah melewati prisma asmara di mataku dan membentuk pelangi di hatiku.
***
“Be..be..begini pak, maksud kedatangan saya kesini ingin melamar Maimunah” kontan saja perasaan gugupku kambuh tidak seperti baisanya. Nelayan tua yang tawaranya ku tolak tadi adalah ayah Maimunah.
“Siapa…siapa nama kamu?” tanyanya cepat. Tetapi matanya berpaling dari pandanganku.“Kamu sudah punya pekerjaan?” lanjutnya cepat.
“Maimum. Belum, tapi sebentar lagi akan menjadi nelayan juga” ucapku malu.
“O, begitu semoga saja ikan-ikan hasil tangkapanmu nanti laris.”
Suasana menjadi hening. Calon mertuaku tidak bersuara. Sementara Maimunah tampak mengintip-ngintip di jendela kamarnya. Aku tidak berani berbicara lagi. Sejurus rasa sungkan, malu, gugup, bahagia dan sahaja teraduk menjadikan detak jantungku semakin kencang saja. Tiba-tiba…
Dar der dor! Keheningan berubah jadi cekam. Dar der dor suara tembakan di luar semakin ramai.
“Pertahankan lahan kita… pertahankan lahan kita…” suara itu bergemuruh dan membuat calon mertuaku sontak kaget. Dan…
“Sebagai syarat lamaranmu diterima, kamu harus membantu warga menggagalkan proyek bendungan dan mengusir komplotan berbaju loreng itu dari desa ini” katanya sambil berdiri.
“Maksud Bapak?” tanyaku berani.
“Gagalkan proyek mereka, usir mereka dari desa ini baru kamu dapat melamar Maimunah. Ayo cepat!” ajaknya sambil mengambil senjata berbentuk tanda tanya yang digantung di dinding.
Aku tidak punya pilihan lain. Segera aku berlari keluar rumah dengan calon mertuaku. Sementara waktu, aku tidak mau peduli Maimunah; biarkan dulu sebentar saja, aku akan menjemputnya selamanya setelah aku berhasil mengusir mereka. Aku dan mertuaku berpisah di bawah pohon besar tempat mobil Carry yang kutumpangi berhenti; mertuaku pergi kearah para penduduk, dan dia menyuruhku menyusup ke gerombolan manusia berbaju loreng itu. Dar der dor semakin gencar. Sejenak aku melihat ke arah penduduk, belasan di antara mereka yang berdiri ada yang memegang dada, perut dan kepala masing-masing dengan darah mulai menetes dari bagian tubuh yang mereka pegang. Mereka mengerang kesakitan.
Aku mengendap-endap di belakang manusia berbaju loreng itu. Postur tubuhku kurus kerempeng mempermudah aku bersembunyi di bawah semak-semak dan di balik pepohonan yang besar. Sebenarnya aku tidak paham betul maksud dari konflik ini. Tetapi demi cintaku pada Maimunah, insya Allah mantap!.
“Pak penduduk masih melawan. Mereka sudah banyak yang tewas”
“Bagus paksa mereka. Tanah itu sudah milik kita mutlak !” kontan saja percakapan salah satu di antara mereka lewat ORARI ketika itu membuatku kaget. Dan aku sedikit mengerti bahwa lahanlah yang jadi rebutan. Bangsat! Aparat macam apa mereka yang melukai penduduk hanya karena rebutan tanah. Kulemparkan batu hitam yang agak besar di dekatku kearahnya. “Akh !”dia mengerang sakit. Lemparanku mengenai lehernya dan sedikit menyerempet di kepalanya. Darah segar kulihat mulai bercucuran. Tubuhnya tiba-tiba rebah. Sementara anggota yang lain menuju kerumah-rumah penduduk; meninggalkannya sendirian. Aku ambil ORARI itu dan kubantingkan ke batu besar itu dan brak ! slikon, resistor dan tombol-tombol berhamburan.
“Hei kurang ajar kamu” suara itu mengagetkanku. Dan dor !
“Akh !” jelas kulihat selongsong peluru keluar dari senapan itu, sementara anak pelurunya menembus siku-siku tangan kananku darah kulihat mulai menetes dari siku kananku.
Pltek…pltek… Suara senapan si loreng yang tampaknya kehabisan peluru. Matanya terbelak memandangiku. Tanpa pikir panjang, senjata si loreng yang kurubuhkan tadi kuambil dan rasakan…Dar der dor, darah mengalir deras dari dadanya. Lima tembakan pas di dadanya dan satu tembakan pas di jidatnya menjadikanku sebagai pembunuh yang sadis. Kegirangan, aku pun berteriak “ha… ha… ha…”
Tidak ada lagi si loreng menghampiriku. Hutan kecil itu sepi seketika. Sementara isak tangis dan raungan semakin keras dari rumah penduduk, semakin dekat pula aku menuju rumah Maimunah. Aku melihat dinding rumah itu berlobang di sana-sini bekas tembakan peluru.
Maimunah! Aku segera menghampiri kamarnya. Kulihat tubuhnya terbujur kaku diatas lantai. Sementara pas di ulu hatinya tangannya terkulai bersimbah darah. Oh tidak. Matanya tiba-tiba bergerak dan aku segera merangkulnya. “Maimunah kamu masih hidup?”
“Ca’ Mai…Mai…mun, pergilah ke Alastlogo Pasuruan. Di sana ada saudari kembarku. Kawinlah dengannya, cintailah dia seperti kamu mencintaiku…”suaranya tersendat-sendat. Tetapi, senyumnya masih mampu menyihir kelenjar air mataku dan deras mengalir turut membasahi ulu hatinya.Oh tidak.
Dengan sisa energi cinta yang menggunung, aku dengan lantang berteriak “Madura akulah darahmu ”. Walaupun aku bukan orang Madura tulen, tapi darah yang memancar dari nadiku dan menetes dari venaku ditambah lagi darah Maimunah turut membasahi; mendarah di bumi Madura.
Mayat bergelimpangan di mana-mana. Suara dar der dor telah berubah menjadi raungan dan tangis. Sementara di sudut Sekolah Dasar di dekat rumah Maimunah ada seorang anak kecil nan lugu bersuara “Bumi, air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat. Pasal…pasal berapa ya? O ya, pasal 33 ayat…ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945…ha…hafal hore !”

Candi, 2005-2007

Thursday, May 17, 2007

Oca' Sapa

REINTEGRASI SISTEM PENDIDIKAN

Oleh : Moh. Arif Rifqi*

Idealitas sistem pendidikan terlihat dari korelatifitas-harmonis unsur-unsur pendidikan yang kemudian mejadi kesatuan integral dalam mewujudkan visi dan misi umum pada proses pendewasaan weltanschaung dan pola pikir suatu bangsa. Secara fisik, bagus-tidaknya sebuah sistem pendidikan dapat dilihat dari terpenuhinya infrastrukutur-infrastruktur aktif maupun pasif, dan lahirnya alumni yang berintelektual, beremosional, serta berintrelektual quoetion yang tangguh dan "pragmatis" menjadi tolak ukur secara non-fisik.

Akhir-akhir ini, sistem pendidikan di indonesia , melalui putra-putra bangsa telah banyak menoreh prestasi-prestasi gemilang—terutama di bidang sains—di tingkat internasional. Akan tetapi, tanpa disadari ada kecemburuan-kecemburuan kecil yang tak terungkapkan dari lembaga-lembaga pendidikan yang terkategori sangat sederhana. Mereka berasumsi bahwa spesialisasi peningkatan mutu pendidikan hanya berkutat pada lembaga-lembaga pendidikan elit.

Sementara itu ke-amburadulan kondisi pendidikan di tingkat bawah (pelosok) masih banyak lembaga-lembaga pendidikan yang bermodal keikhlasan, fasilitas, dan sarana pra-sarana, serta infrastuktur ala kadarnya saja. Tak ayal dijumpai di daerah pelosok sekolah-sekolah yang tidak bertap, tidak berbangku, dan kondisi memprihatinkan lainnya. Sehingga ketidsak-merataan kualitas dan kesadaran pendidikan tidak hanya dipengaruhi oleh sosialisasi yang kurang terserap baik, tapi, juga dipengaruhi oleh faktor fisik.

Sejak aktifisasi otonumi daerah, lembaga-lembaga pendidikan ala kadar tersebut mulai mendapat perhatian dari pemerintah setempat khususnya. Salah satunya, dengan manifestasi kepedulian berupa BKG, BKM, BKS, yang secara umum mempunyai tujuan meningkatkan kualitas pendidikan menjadi lebih baik, setahap demi setahap (metamorfosis penyetaraan). Pada mulanya, bantuan-bantuan tersebut tersalur dengan baik. Akan tetapi, pengakaran budaya korupsi dan mental mata duitan beberpa aktor pendidikan, justeru menjadikan momen tersebut sebagai kesempatan untuk meraup keuntungan pribadi. Kasus semacam ini selain menjadi parasit bagi sitematika dan sistimatika perbaikan kondisi pendidiakan indonesia , juga menjadi wujud ketidak-bersyukuran yang bisa berujung pada laknat yang barangkali akan dibahasakan ujian dari Tuhan.

Mulianya visi dan misi pendidikan mulai berbalik arah pada pembuatan "perusahaan" MI, SD, Tk dan lain sebagianya. Kasus-kasus korupsi dana bantuan sekolah sering terjadi pada lembaga-lembaga pelosok yang ternyata belum begitu siap "memegang dan mengelola uang banyak". Sehingga muncullah upaya rekrutmen anak didik dengan cara yang tidak baik. Akan tetapi, bukan berarti steril untuk lembaga-lembaga elit—umumnya diperkotaan. Justeru ada kemungkian untuk penyembunyian fakta sesamar mungkin.

Walaupun kontrol yang dilakukan pemerintah bisa dikatakan cukup baik. Akan tetapi, kolektifitas dan ke-akuratan data masih bersifat umum dan kolektif. Apalagi campur aduk pers kadangkala manyisakan kisah kelabu dangan iming-iming uang dan lain sebagainya. Sementara itu masyarakat tidak bisa berbuat banyak. Karena acap kali masyarkat kurang mendapat informasi dan kurang sadar tentang bantuan-bantuan tersebut—khususnya dipelosok.

Dengan demikian perlu dirasa adanya kesadaran-praksis dari semua elemen penting pendidikan. Seperti, Guru, pengelola lembaga, anak didik, masyarakat dan pemerintah, dengan lebih meningkatkan kualitas kejujuran, keterbukaan, keharmonisan, dan integralitas sebagai sebuah tatanan dengan visi dan misi mulia.
Seperti petuah Ki hajar Dewantara "Ing ngarso song toludo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani", manifestasi dan aplikasi integralitas multi sisi, selain menjadi konstruksi sistim pendidikan yang ideal, juga bisa menjadi obat bagi sistem pendidikan yang sedang sakit.

Signifikansi dan mulianya visi, misi dan manfaat pendidiakan, ketika dikotori oleh Dajjal yang berkedok Isa, berarti sudah ada di ujung tanduk. Tentunya ini adalah tanggung jawab kita bersama.

*Penulis adalah aktifis Forum Silaturrahiem Santri Dan Masyarakat (FOSSMA)